Friday, 12 May 2017

# On Going Story

[On Going Story] Hell Bound - Part 3: Dagon


KEMARIN aku sudah tidak masuk kerja gara-gara seharian kepala rasanya nyut-nyutan mau pecah. Mau tak mau kurebahkan tubuhku di ranjang seharian. Dan sekarang aku kembali mengendap-endap diantara kursi yang masih tersusun rapi di atas meja. Sengaja aku datang pagi-pagi buta ke Kedai Kopi Semangat agar Abangku tercinta itu tidak mengomel panjang-panjang.


“Walau aku ini Abangmu, tapi harusnya kamu juga professional dong! Apalagi kamu cuma pekerja paruh waktu di sini. Aku nggak enak sama karyawan lain. Jangan bikin nepotisme yang udah Abang lakuin susah-susah jadi mencolok!” kata-kata Bang Aga kembali berputar pada memori otak seperti kaset rusak.

“Nggak usah kayak maling, cepetan turunin kursi-kursinya.”

Cengiran lebar andalanku terpampang untuk Bang Aga, ku hampiri ia yang sedang menyusun biji-biji kopi pada masing-masing toples yang tersusun dalam 4 rak. Tiap rak berbeda jenis kopinya, seperti pada rak paling bawah yaitu deretan Kopi Arabika, masing-masing toples tertulis Gayo, Mandaling, Kintamani, Mangkuraja, dan berbagai jenis kopi lainnya.


“Maaf Bang, kemarin aku sakit. Kalau nggak percaya tanya deh sama Ibu. Seharian aku tidur. Kepalaku sakit,” rengekku sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah sebagai tanda perdamaian. Biasanya apa pun masalah yang aku bikin, Bang Aga akan luluh dengan rengekkan manjaku ini.

“Sakit setelah semaleman nggak pulang?” sindirnya telak, “kamu udah bikin Ayah dan Ibu panik. HP nggak aktif. Nggak ada kabar sama sekali. Mending kamu tinggal sama Abang aja kalau cuma bikin repot orang tua mulu.”

Kucebikkan bibir kebawah, ternyata rengekkanku gagal total. Tinggal sama Bang Aga, sama aja kayak di penjara. “Agastya Nareswara yang super baik,” kupeluk lengan kiri Bang Aga yang sedang terulur ingin mengambil toples yang siap disusun, “janji deh ini yang terakhir kalinya. Aku nggak sengaja mabuk dan…”
Kini Bang Aga melotot ke arahku. Mati! Udah salah ngomong!

“Eh, maksudnya…” kataku gelagapan berusaha menjelaskan.

Bang Aga berdeham, jakunnya naik -turun bikin bulu kuduk merinding. Ekpresi murka sudah tercetak jelas pada otot-otot yang menonjol disekitar pelipisnya, “Alka Nareswari, mulai besok tinggal sama Abang!”

That’s it! Keputusan final! Satu-satunya cara, aku harus membujuk Ibu agar tak melepasku tinggal di rumah Abang. Selain Abang yang overprotective, Kak Gilda juga tidak kalah menyebalkan. Kakak ipar yang menolak keras aku panggil mbak itu kurang suka padaku. Dia bilang, kalau kamu di sini perhatian Bang Aga cuma buat kamu!

Yah, beginilah jadi adik satu-satunya. Suka jadi pelampiasan kasih sayang, yang terkadang malah bikin jengkel. 

Masih menampilkan muka cemberut kuturunkan semua kursi di kedai ini. Kursi berkaki empat dengan sandaran kayu yang agak melengkung ke dalam dan bantalan empuk berwarna merah maroon, kontras dengan wallpaper bunga-bunga pada dinding. 

Sampai sekarang aku masih bingung dengan konsep Kedai Kopi Semangat. Kopi yang ditawarkan semua lokal, asli dari Nusantara. Tapi dekorasinya mirip dengan Eropa vintage. Seperti tadi wallpaper bunga-bunga dan berbagai macam hiasan benda kuno. Bahkan engsel pintu yang sudah lapuk pun terabadikan di pigura. Sudah mirip dengan museum. 

Tring! Tring!

Ada seorang pelanggan memasuki kedai, bahkan sebelum semua kursi aku turunkan. 

Morning Al,” Pria itu tersenyum lebar, seperti biasa ia merebut kursi yang akan kuturunkan.

“Semangat pagi Tristan!” jawabku kelewat semangat dengan senyum yang tak kalah lebar. Setiap bertemu dengan pria ini entah mengapa moodku langsung menjadi baik. Padahal belasan menit yang lalu aku mengira akan badmood seharian. Bahkan sempat memutuskan untuk menjauh dari Bang Aga sementara. Thanks to cowok ganteng dengan tinggi kebangetan ini, aku hanya sebatas dadanya. Padahal tinggiku sudah lumayan, 160cm. Tidak terlalu pendek kan?!

“Aku tepat waktu kan?” Sekarang Tristan yang mengambil alih semua tugasku.

Aku mengangguk dengan senyum lebar yang enggan pergi, kulihat jam di atas kasir menunjukkan pukul 5.30, “on time like always.” 

Tristan tersenyum semakin lebar, dan juga semakin terlihat seksi ketika ia menurunkan kursi-kursi itu dalam sekali sentakan. Boleh tidak kalau dia aku bawa pulang? Dijadiin bantal barangkali? Penasaran, gimana rasanya bobo' berbantalkan otot seksi itu. 

“Kerja woi!” entah datang dari mana Bang Aga menoyor kepalaku. “Bengong mulu!”

Melihat kelakuan Abangku yang rese ini, Tristan tertawa. Dan aku kembali tersipu, tak apa-apa deh kena toyor kalau bayarannya bisa lihat gigi gingsul yang jarang-jarang nongol itu. Hihi…

Tring! Tring!

Mbak Jodi dan Bang Erik, karyawan di Kedai Kopi Semangat sudah datang. Mereka melambai sok akrab. Apalagi setelah melihat Tristan, lambaian Mbak Jodi makin semangat.

“Malu woy! Keduluan pelanggan!” teriakku iseng. Bang Erik yang orangnya pendiam langsung berlari ke belakang, ingin segera ganti baju barangkali. Lalu di susul Mbak Jodi yang memeletkan lidahnya lebih dulu.
Aku hanya tertawa-tawa sepeninggal mereka. 

“Aduh!” sekali lagi Bang Aga menoyor kepalaku. “Kerja woy! Jangan cuma bengong dan ngerjain orang!”
Kulempar tatapan horror pada Bang Aga, ketika ia melemparkan lap meja ke arahku. Lalu dengan cueknya ia melenggang ke balik mesin kopi, bersiap menggiling kopi untuk hari ini.

Saat aku berbalik semua kursi telah diturunkan, Tristan sekarang bersandar pada salah satu meja dengan kedua tangannya bersedekap di depan dada. Tatapannya lurus ke arahku dengan senyum menggoda. Apa dia lagi flirting sama aku? Oemji! Lebih baik jangan GR dulu Al! 

Kuhampiri ia, bersiap membersihkan meja di sampingnya. “Thanks buat bantuannya,” kusunggingkan senyum termanisku. 

Anytime Al, apa sih yang nggak buat kamu?”

“Haha… lame! Kamu lagi nggak ngerayu aku dengan jurus kadaluarsa itu kan?” tanganku masih sibuk mengelap meja, tapi hatiku berdebar keras di dalam sana. Sampai telingaku rasanya brisik sekali. Play it cool Al! Kalahkan jantung kurang ajar ini!

Kini Tristan yang tertawa, “jadi kapan kamu bisa buatin kopi buat aku? Bosen nih minum kopi buatan Bang Aga mulu.”

Oh, jadi dia mau melarikan diri dari topik tadi? Baiklah, kali ini aku lepasin. I’ll follow your game handsome! “Tau sendiri kan, Bang Aga nggak akan ngijinin aku nyentuh mesin kopi itu seujung kuku pun!”

“Tapi gimana kalo dia nggak tau?”

Believe me, I tried. Dan malah kena masalah, gara-gara cairan kopinya tumpah kemana-mana. Tebak, gimana reaksi Bang Aga waktu lihat itu?”

Kami saling berpandangan lalu Tristan tertawa, keras, lebar, lepas. “Please don’t tell me!” 

Tawaku menyusul tawa Tristan memenuhi Kedai Kopi Semangat. 

“Jangan bilang kalian lagi ngomongin cowok ganteng di sini!” Bang Aga berteriak dari belakang mesin kopi, menunjuk dirinya sendiri.

Mulutku membentuk kata GR lebar-lebar lalu kembali tertawa.

Tring!  Tring!

Pelanggan pertama kami sudah tiba, ralat, pelanggan kedua. Kuhentikan tawaku ketika melihat Nik! Tumben sekali anak itu pagi-pagi sudah disini. Dan ini weekend! Kejadian sedahsyat apa yang bikin Nik terdampar disini? Dan sumpah! Perasaanku jadi tidak enak.

Nik mengedarkan pandangan ke seluruh kedai setelah tersenyum pada Bang Aga. Pandangannya berhenti padaku lalu pada Tristan. Tawa Tristan juga sudah berhenti ketika mendapati Nik memasuki ruangan. Kini yang ditampilkannya senyum aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Dengan langkah lebar-lebar, Nik menghampiri kami. Ia berhenti di hadapan Tristan dengan pandangan yang mengerikan! Mereka berdua saling tatap, seolah ingin saling menerkam. Melihat cara mereka berinteraksi, aku menyimpulkan mereka sudah saling kenal.

Brak! Nikhil meninju rahang Tristan hingga cowok itu ambruk menabrak kursi.

What the….
 
Bersambung....




Hell Bound Part 1: Klik di sini
Hell Bound Part 2: Klik di sini

21 comments:

  1. Agastya Nareswara sama Alka Nareswari, raja dan ratu. Suka nama itu, mirip sama nama rebabku, Asyana Nareswari :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. malah baru tau kalo itu artinya raja dan ratu mas, hehe

      Delete
  2. kak niiing, ceritanya menarik banget!
    ini berhubungan dengan iblis yang mewakili 7 dosa kah? hmm tapi ada dagon.
    btw, aku tunggu lanjutannya ya. semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Lisa, iya... nanti 7 dosa itu akan dikumpulin. :)

      Delete
  3. bukunya berapa tebelnya ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum jadi bang, itu baru awalnya...

      Delete
  4. Enjoy banget baca tulisanmu kak. Keren!

    ReplyDelete
  5. Kereeeen..... aku gak jenuh baca ceritanya

    ReplyDelete
  6. Aku sampe baca part 1 dan 2nya loh saking penasarannya. Bagusss ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi malu, part 1&2 udah lama nulisnya kak, hehe

      Delete
  7. Alurnya dapat, kita terbawa terus ke ceritanya. Keren

    ReplyDelete
  8. bagus nih. infoin ya kalo dah kelar. hhehehehe

    ReplyDelete
  9. wiiihh bagus bener, Ning. rapih nulisnya :)

    ReplyDelete

instagram