Sunday, 23 April 2017

# Artikel

Si Doel, Saksi Nyata Jakarta Tempo Dulu



Penat memadatkan pikir, dan hiburan akan dengan sukarela mengurainya.

Salah satu hal yang menyenangkan untuk dilakukan setelah seharian beraktifitas adalah menonton TV, bisa sambil tiduran dan memeluk guling atau sambil menyesap secangkir teh panas. Mengurai kepenatan dengan merilekskan badan sejenak.


Jika berbicara tentang acara TV, sebenarnya banyak sekali acara TV yang edukatif, informatif, dan menghibur. Seperti tayangan berita, fakta-fakta menarik, komedi dan sinetron. Dikutip dari facebook Rating Program TV Indonesia, acara yang merajai rating adalah sinetron. 

Sekarang ini banyak sekali sinetron yang kurang edukatif dan malah memberi dampak negatif pada masyarakat. Ketika saya menonton sinetron sekarang bukannya terhibur malah merasa capek dan sebal dengan kejahatan antagonisnya yang seperti tidak memiliki hati nurani. Padahal sejahat-jahatnya manusia, pasti memiliki sisi baik. Jika anak-anak yang menonton tanpa dampingan orang tua dikhawatirkan akan meniru perilaku tidak pantas yang sinetron tayangkan.

Berbeda dengan jaman dulu, terutama sinetron tahun 90an, masih sesuai usia dan tidak melulu tentang anak orang kaya, geng-gengan, balapan, dan pakaian mini anak-anak sekolah. Salah satu sinetron favorit saya adalah Si Doel Anak Sekolahan. Menceritakan tentang tokoh Doel yang memiliki cita-cita yang tinggi. Walau berasal dari keluarga yang biasa, tapi Doel tak menyerah pada keadaan. Doel juga sering membantu Emak membuka warung dan membantu Babe menarik oplet – mobil berpenumpang dengan ukuran kecil jaman dulu – di waktu luangnya.

Selain Doel yang rajin ada juga Mandra yang sedikit menyebalkan dan pemalas. Harus di marah dulu baru beranjak kerja. Pantas saja jika Mandra tak kunjung mendapatkan jodoh. Maka, pelajaran yang bisa diambil adalah rajinlah bekerja agar cepat dapat jodoh. Hehe

Di sinetron ini, semua tokohnya memiliki peran penting. Tidak hanya sekedar pelengkap. Dan fokus ceritanya juga jelas. Seperti Atun, anak perempuan emak yang membantu urusan rumah tangga, Emak yang mengayomi, Babe sebagai kepala rumah tangga yang tegas, dan tokoh lain yang memiliki peranan yang tak kalah krusial.

Setelah meraih cita-cita sebagai seorang sarjana, Doel kembali di uji ketika ia mencari pekerjaan. Ternyata pada jaman itu, sarjana pun terancam pengangguran. Tapi, dengan kegigihannya Doel kembali melewati rintangan itu.

Dan yang bikin kangen dengan sinetron ini adalah suasannya. Dulu Jakarta masih rindang. Banyak gedung tapi tak sebanyak sekarang, mengambil air masih menimba, nyuci baju masih dengan papan, dan menjemurnya juga masih manual, diperas dulu hingga air kering baru dijemur. 

Tak hanya sekadar sinetron, Si Doel Anak Sekolahan juga sebagai dokumentasi sejarah Jakarta yang kini telah berubah drastis. Jika ternyata dulu Jakarta memiliki kesederhanaan dan tak melulu kejam. Semoga sinetron Indonesia kembali menemukan jiwanya, inti cerita yang menginspirasi penontonnya, tak hanya sekadar menghibur.

No comments:

Post a Comment

instagram