Wednesday, 1 March 2017

# 3 Stars # Book Review

[Review] 17 Years of Love Song by Orizuka


Beberapa kali sabtu ini, saya selalu bangun pukul tujuh pagi. Untuk mendengarkan acara radio, yang belakangan ini jadi acara favorit saya, yaitu bincang pagi bersama komunitas Goodreads Indonesia di RPK FM atau di frekuensi 63.3 FM. Dan pagi itu bintang tamunya adalah salah satu penulis yang saya suka. Orizuka. Penulis yang sering menyuguhkan sad ending dalam novel yang ditulisnya. Seperti biasa, saya selalu menyempatkan mengirim sms ke radio tersebut. Dan hampir selalu dibacakan, makanya ketagihan kirim sms kesana, hehe. Rasanya lucu ketika pesan saya dibacakan oleh penyiar dan mengudara lalu mempir ke banyak pendengar. 

Di hari yang sama, saya mendatangi acara Kopdar Kubbu (Klub Buku dan Blogger BPJ Jakarta). Setelah siaran kesukaan saya berakhir. Saya bersiap-siap untuk acara kopdar tersebut. Pagi itu hujan tak henti-hentinya mengguyur daratan Jakarta. Hingga saya masuk ke dalam Trans Jakarta pun, hujan masih deras, hingga dingin terasa makin menusuk ketika sudah beberapa lama di dalam bus berAC itu. Bahkan, kacanya sampai berembun. 


Lalu tepat pukul 10.40, hp saya bergetar. Ada sms dari radio RPK yang mengabarkan bahwa saya mendapat sebuah buku dari Orizuka. Seketika saya nggak bisa berhenti senyum, hangat menjalar, memerahkan pipi hingga membuat degup jantung saya lebih cepat. Jika tidak sedang di dalam bus, ingin rasanya saya lompat-lompat atau joget dangdut sekalian, hehe. Dan pada hari yang sama, saya juga mendapatkan bukunya Boy Candra yang berjudul Senja, Hujan & Cerita yang Telah Usai dari Kubbu. Lengkap! Hari itu saya merasa sangat beruntung dan super happy

Baiklah, sekarang saatnya untuk mereview bukunya Orizuka. Maaf jika cerita saya terlalu panjang. Hehe...

Sinopsis:

Nana, saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri
untuk selalu berada disampingmu.
Menemani sepimu. Menghapus air matamu.
Menjadi kekuatanmu.

Leo berusia tujuh belas tahun saat pertama kali bertemu dengan Nana di padang ilalang belakang sekolah barunya. Leo adalah pemuda pecinta baseball yang berasal dari Jakarta. Sedangkan Nana adalah gadis berkursi roda yang tinggal di Purwakarta.

Leo sempat menganggap remeh kampung tempatnya sekarang tinggal, tetapi Nana mengubah segalanya. Nana membuatnya berbalik mencintai kampung itu, mencintai segala hal mengenainya… termasuk gadis itu.

Semuanya berjalan indah bagi Leo, sampai tiba saat mereka harus berpisah. Leo berjanji untuk kembali, tetapi sebuah musibah yang terjadi membuat mereka benar-bernar terpisahkan. Sekeras apapun Leo berusaha, Leo tak dapat menemukan Nana.
Pada saat mereka akhirnya kembali bertemu, keadaan jauh berbeda.
Akankan mereka dapat merajut kenangan indah seperti dulu?
Hei Nana, pa aku berhasil melakukannya?


Kali ini Orizuka membawakan kisah Nana dan Leo. Cowok metropolitan yang bertemu dengan kembang desa. Tapi Nana tak sembarang kembang desa, gadis itu memiliki ketulusan yang mampu menyentuh hati banyak orang. Hingga Leo, yang awalnya nggak betah tiba-tiba tinggal di Purwakarta, menjadi enggan pergi. Dan yang paling menarik perhatian saya dari sosok Nana yaitu ia mengalami kelumpuhan. Cewek yang tak ingin dikasihani dan ingin diperlakukan sama dengan orang lain.

Cerita dimulai dengan Leo berada di sebuah pantai bersama degan gadis kecil, dan ingatannya berlari ke masa lalu, mengenang Nana. Alurnya mundur jauh ke belakang. Ke adegan sebelum Leo bertemu dengan Nana. Saya suka dengan awal cerita seperti ini, pembaca jadi penasaran dengan apa yang telah terjadi.

Leo, cowok ganteng korban perceraian orang tua, dan memutuskan untuk ikut Asti, sang Ibu yang seorang dokter, pulang ke kampung halamannya. Ibunya memang tak sekaya Ayahnya, bahkan dengan ikut dengan Ibunya, Leo mengorbankan baseball yang dicintainya. Di Jakarta saja saat itu olahraga baseball masih jarang, apalagi di kampung?

Dalam novel ini ada 18 Bab, dan di setiap akhir babnya akan terselip perasaan Leo dari masa depan untuk Nana.

Nana, saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri untuk selalu berada di sampingmu. Menemani sepimu. Menghapus air matamu. Menjadi kekuatanmu.
Hei Nana, apa aku berhasil melakukannya?


Kalimat-kalimat dari Leo inilah yang bikin saya penasaran. Dan konflik yang diangkat juga lumayan berat, tapi entah mengapa saya kurang merasakan konfliknya. Mungkin karena dialog yang terlalu banyak dan sedikitnya narasi, menjadikan perasaan setiap tokoh kurang tersalur pada saya.

Selain tokoh utama, ada sahabat-sahabat mereka sewaktu SMA dan sewaktu Leo kuliah yang ikut meramaikan suasana. Ada banyak pesan yang tersirat, bahwa teman yang tulus akan memberikan dan melakukan hal yang terbaik untuk temannya. Walau dengan cara yang mungkin belum tentu di mata kita benar. 

Dan untuk cover novel ini juga keren! Sangat menggambarkan tokoh utama yaitu Leo dengan Glove dan Bola Baseballnya. Benda yang mempertemukan Nana dan Leo, yang merekatkan mereka, saksi bisu bagaimana rintangan menghadang mereka berdua.

Saya kasih rating 3 bintang dari 5. Novel ini sudah bikin saya nangis. Pesan-pesan Leo yang tertulis dalam setiap bab tadi sukses bikin saya penasaran dan terus membaca, mendekati akhir saya bisa menebak jalan ceritanya. Tapi yang bikin gregetan, walau sudah tau jalan ceritanya akan berakhir bagaimana. Saya tetep nangis! Haha… Sudah ada 3 novel Orizuka yang saya baca dan berakhir sad ending. 

Sangat recommended untuk pecinta novel teenlit, chicklit, sad ending, dan cerita-cerita cheesy :)

Anyway, rekambaca adalah blog yang pernah saya bikin lalu saya hapus lagi. Maafkan saya yang labil, hehe

No comments:

Post a Comment

instagram