Friday, 30 December 2016

# Daily Life

Workshop: Creative Writing 101 (Part 1)



Dulu di grup Whatsapp Kubbu ada info dari Mindang (adMIN enDANG) soal workshop yang diadakan dalam acara Festival Pembaca Indonesia di Museum Gajah, berhubung memang aku sedang belajar menulis, akhirnya aku memutuskan untuk register. Makasih Mindang *salim

Nggak usahlah ya nyeritain perjalananku gimana sampai di workshop ini, dan apa aja yang aku lakuin. Karena aku yakin, kalian pengen segera baca materi workshop seperti judul di atas. I know, jadi nggak perlu basi-basi telolet!

Pembicara dalam workshop ini adalah Windy Ariestanty dan Hanny Kusumawati. Mereka adalah founder Writing Table. Kelas menulis online kece yang bisa di ikuti siapa pun dan dimana pun. Silakan, jika kalian pengin kepo seperti apa sih Writing Table itu, tinggal klik aja di sini.


Captured by Mindang tercinta :)
Kalimat yang Kak Windy lontarkan ketika membuka acara ini adalah INI BUKAN KELAS MENULIS! Karena menulis itu adalah habit atau hasil dari banyak latihan menulis. Intinya, untuk menghasilkan tulisan kece, kita perlu proses, perlu jam terbang. Nggak bisa instan. 

Ketika mereka berbicara, ada kutipan yang menggugah dan menggebrak diri ini agar kembali fokus menulis, nggak cuma nonton drama korea dan film horror mulu. (Ngaku :p)

“Jika menulis seperti kita berbicara, proses menulis akan lebih mudah. Dan kebanyakan dari kita menulis sambil mengedit.”

Itulah pelajaran pembuka yang aku dapet, memang benar, kadang aku suka baca ulang tulisan yang satu paragraf pun belum ada. Dan yang terjadi hanyalah hapus-ketik-hapus-ketik yang bikin tulisan malah nggak kelar-kelar. So, who’s with me? :p

“Menulis tanpa tekanan akan menciptakan tulisan yang akan menjadi ide tulisan yang keren.”

Jadi apa sih tujuan kalian nulis? Aku nulis cuma buat catatan aja, jadi nanti pas udah tua bisa dibaca anak cucu, kan jadinya lucu? Atau, aku nulis buat penghilang stress. Atau, aku nulis iseng aja kok. Atau aku nulis buat menyalurkan bakat! Are you SURE? Yah, katakanlah itu bener. Tapi aku yakin, yang punya alasan yang BENAR-BENAR seperti itu hanya sekitar 2 dari 10 orang! Maaf kalau tersindir, tapi itu fakta gaes! Terimalah kenyataan, hihi

Sisanya? Ada embel-embel materi di baliknya, atau bisa kita sebut dengan ‘pamrih’. Seperti, biar dapet penghasilan tambahan, kan lumayan. Atau, kan keren jadi penulis, tinggal nulis doang dapet duit, apa susahnya? Atau, aku nggak mau kalah dong dari dia! It’s okay gaeeesss!!! Nggak munafik ya, siapa sih yang nggak pengen dapet duit dari menulis. Aku juga mauuuu! Tapi, ketika kita menulis dengan tekanan-tekanan di atas. Kita malah jadi terbebani dan nggak bebas. Bukannya menikmati tapi malah berasa mau mati.

Selain pembuka yang mengobarkan lagi semangat menulisku, ada beberapa metode yang bisa dipakai untuk merangsang agar tulisan menjadi kreatif. Check this out:


1.       MENULIS LEKAS, MENULIS JUJUR!

Ketika ide cerita tercetus dalam otak, dengan segera kita harus mengabadikannya dalam tulisan. Atau paling nggak catet dulu idenya sebelum lenyap. Otak kita ini bukan PC gaes, ketika kita membutuhkan file penting tinggal cari di hardisk. Kalau aku sendiri, biasa menggunakan Evernote. Selain bisa di akses di PC dan HP, juga ringkas, membawa buku catatan kemana-mana menurutku agak ribet.Belum lagi kalau pulpennya nyelip. Bukannya nyatet ide malah idenya keburu lupa karena kesel nyariin pulpen.

Selain mengabadikan ide. Kak Hanny juga memberi contoh dengan menunjuk salah satu peserta untuk menceritakan perjalanannya sampai di museum gajah dalam waktu 3 menit tanpa berhenti bicara. Jika dia bingung, bicara saja bingung. Tanpa sadar ketika kita mengungkapkan suatu cerita, otak akan kembali mencari dan terkadang ada ide menarik yang menyembul.

Itu tentang menulis lekas, lalu bagaimana menulis jujur? Like always, dimana-mana jujur itu memang perlu keberanian. Sama halnya dengan menulis, nggak melulu soal adegan FTV yang menceritakan anak orang kaya yang jatuh cinta dengan pembantunya, tukang tambal ban, tukang becak, tukang embuhlah itu. Atau, sering banget kan lihat adegan tabrakan – pandang-pandangan – jatuh cinta. Padahal gaes, kita jatuh cinta itu nggak harus tabrakan dulu, pasti kalian punya kisah unik tersendiri. Tapi kenapa ketika menuliskannya, kalian malah nulis adegan semacam FTV tadi? Itu karena kalian khawatir, jika kisah kalian tidak cukup menarik untuk ditulis. Kalian khawatir jika pembaca tidak menerima itu. Padahal, pembaca juga butuh kesegaran dan ide baru. So, jangan kawatir gaes! Tunjukkan kisah unikmu pada dunia :)



2.       MELINTASI WAKTU

Pernahkah kalian mengalami writing block? Kalau aku sering banget! Kadang sampai frustasi. Kenapa sih jadi buntu gini. Adegan apa yang cocok buat lanjutin ini? Bagaimana kelanjutan ceritanya? Atau mungkin kalian yang lagi nulis kisah jalan-jalan bisa berimprovisasi juga dengan metode ini.

Piculah dengan kalimat, “saya ingat ketika...”

Contohnya, ketika kita lagi jalan ke gunung atau apalah, bingung kasih contoh karena aku nggak pernah naik gunung dan jarang jalan-jalan. Hehe. Ketika kita berada di puncak, melihat lautan awan yang keren gilak. Agar tulisan lebih menarik dan perasaan penulis ikut masuk dalam tulisannya hingga pembaca juga ikut merasakannya, kalian bisa pancing dengan kalimat di atas.

Saya ingat ketika pertama kali mata saya mengagumi langit. Saat itu langit tidak terlalu cerah, hanya arakan awan yang berjalan perlahan melintasi langit. Aku berpikir, apakah di atas awan ada negeri kayangan seperti yang di dongengkan Mbah Putri sewaktu saya kecil.  Lalu saya berpikir ingin melihat awan dari atas, dan hal itu menjadi motivasi awal saya untuk mendaki gunung. Untuk mengunjungi negeri kayangan yang memang tak terkira eloknya. Mbah Putri benar.... bla...bla...bla.

Itu hanya contoh lho ya, karena setiap orang memiliki cerita dan gaya bahasa masing-masing ;)


3.       PANCA INDRA DAN MEMBAUI KENANGAN LAMA
Sebenarnya Panca Indra dan Membaui terbagi menjadi poin yang berbeda, tapi karena sama-sama berhubungan dengan panca indra, aku memutuskan untuk dijadikan satu saja. hehe (seenaknya nih :p )

Kak Hanny dan timnya membagikan kepada kami sebuah jeruk di setiap meja. Jeruknya nggak sama, ada yang dapat jeruk limau, jeruk mandarin, dan jeruk sunkis. Ia meminta kami untuk mencium bau jeruk tersebut. Lalu menginstruksikan agar kami memejamkan mata, bau jeruk itu mengingatkan kami akan hal apa? Lalu tulis dalam waktu 2 menit.

Inti pembelajaran yang ingin disampaikan adalah kita harus peka terhadap indra kita. Udara yang kulit rasakan. Bau yang kita cium. Rasa yang kita kecap. Apa saja yang kita dengar. Eh, jadi maksudnya kita jadi penguping? Iya. Kadang obrolan di sekitar kita juga menarik dan bisa dimasukkan dalam tulisan atau bisa jadi menjadi ide cerita kita. Udah pokoknya kalau dapet ide catet! Hehe

Metode ini juga bisa dipakai jika kita sedang menulis tentang makanan. Nggak hanya menulis betapa enaknya makanan itu, kita juga bisa mengecap, rasa makanan ini mengingatkan kita tentang apa? Apakah suasana di restoran ini nyaman? Apakah bau makanan yang tercium membuat kita merem melek dan malah teringat sang mantan? Bagaimana dengan sountracknya? Apa malah mengganggu kita makan? Atau malah makin nikmat dengan sountrack yang mendayu? Atau, harusnya makanan pedas ini diiringi dengan musik rock! Atau terserah kalian indra apa yang ingin di'peka’kan.
 


4.       MENDENGAR DIRIMU BERBICARA
 
Jika membuat dialog, bayangkan dirimu sebagai karakternya.

Contoh:
 A: kemarin si C bilang, kalau kamu itu cewek matre.

Bagaimana reaksi kalian ketika ada teman berbicara seperti itu kepadamu? Bagaimana? Apakah APAAAAAAAAAAAAAAAAA???????????? Sambil mata melotot dan kejang-kejang. Haha... kalau ini sinetron banget ya?! Atau, Brengs*k! Gua hajar tuh orang! Atau, What The F! Kayak dia nggak matre aja. Atau, udah nggak usah dengerin dia ngomong apa. Atau, hari gini kita harus matre, tanpa duit emang lo bisa hidup? Dan lain sebagainya.

Yang terpenting kita mengenali karakter kita, apakah ia pemalu, pemarah, sabar, algojo, penembak jitu, pegulat, atau apalah-apalah.

Pokoknya nggak semua orang bakal jawab APA?! Sambil mata melotot ya, hehe

Baiklah sampai di sini dulu materi workshopnya. Nanti akan ada part 2, seluruh tips atau metode menulis kreatif yang Kak Hanny kasih ada 10. Penasaran? So, jangan lupa pantengin terus blog apalah-apalah ini. hehe


Xoxo,
Ning!

7 comments:

  1. Aku sukaaaaaa. 😍😍😍😍
    Kereennnn 👍👍
    Menantikan part #2
    *salim

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mau menanti Mba ��
      Rencana mau di posting minggu depan ��

      Delete
  2. Mbak Windy ini aku pernah ketemu. Kalo ngomongin soal tulisan terutama fiksi, menurut aku, dia salah satu gacoanku. Meski gak sampai favorit setengah mati. Keren sih tulisannya. Tapi, dia termasuk salah satu editor lama Gagas Media yang kutahu. Mungkin itu yang bikin buku2 fiksi Gagas Media jadi T.O.P.B.G.T. Hehehe... Btw, mbak Windy itu masih di Gagas gak sih mbak Ningsih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Windy udah gak di gagas lagi. Terakhir yang aku tau 2015 kemarin dia jadi komunikasi kreatifnya agro media group. Tapi yg jelas Mba Windy masih aktif menulis perjalanannya sampai sekarang 😊

      Delete
  3. Seneng bacanya. Ditunggu part 2nya. Jangan lama2 yaa 😊😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mas Andi, bakal diposting secepatnya kalo udah ditulis. Hehe

      Delete

instagram