Thursday, 15 December 2016

# Book Review

[Review] Partikel (Supernova #4) by Dee


Sumber gambar: Goodreads :)
Judul Buku: Partikel

Penulis: Dee / Dewi Lestari

Editor: Hermawan Aksan & Dhewiberta

Desain Sampul: Fahmi Ilmansyah

Penata Aksara: Irevitari

Penerbit: PT Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-8811-74-3

Tebal: 500 halaman

Cetakan Pertama, April 2012.


 
Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
Engkaulah lengang tempatku berpulang

Bunyimu adalah senyapmu
Tarianmu adalah gemingmu

Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup

Saput batinku meluruh
Tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana

Cuma kini
Tinggal sunyi

Dan, waktu perlahan mati


(catatan kecil saat langit kelabu di taman bambu)-hal. awal :)


Novel ini dibuka dengan inti masalahnya. Zarah sedang mencari seseorang. Siapa seseorang itu? Ayahnya (Ini bukan spoiler, karena yang seru petualangannya, hehe). Lalu dilanjutkan dengan bagaimana Ayah dan Ibu Zarah bersatu. Firas yang merupakan Ayah Zarah adalah anak adopsi dari Hamid Jalaludin –kakek Zarah yang berdarah arab dan biasa dipanggil Abah. Sedangkan Ibu Zarah –Aisyah, adalah anak kandung yang Abah dan Umi peroleh setelah mengadopsi Firas. Pertentangan pun dimulai karena Abah tidak setuju dengan pernikahan Firas-Aisyah, mengingat mereka bersaudara walaupun tidak kandung. Konflik pertama.


Dari pernikahan Firas-Aisyah, lahirlah Zarah dan adiknya Hara. Awalnya keluarga mereka sangat harmonis, mengingat Firas memiliki kecerdasan di atas rata-rata, ia diterima di Fakultas MIPA Institute Pertanian Bogor tanpa tes. Lalu memutuskan menjadi seorang ahli mikologi dan mengajar di IPB. Ia juga membantu warga Batu Luhur memajukan pertaniannya. Tak heran jika Firas sangat dihormati warga.

Untuk menangkal hama, Ayah meminta masyarakat menanam pohon mimba sebanyak mungkin. Sebagian besar ditanam mengelilingi ladang, diselang-selingi kembang tahi kotok. Ayah bilang, tanaman-tanaman itu mengusir serangga pengganggu secara alami. Jika dibutuhkan, baru ia membuatkan ekstrak dari air daun dan biji mimba untuk disemprotkan ke ladang. Sisanya dipakai untuk pemakaian antiseptik rumah tangga. Hal.12

Setiap malam Firas akan mendongeng untuk Zarah, bukan tentang timun mas, atau si kancil, tapi tentang anatomi otak, penampang daun, sistem pernapasan reptil, ambfibi, pises, aves, dll. Bayangkan bagaimana pintarnya Zarah nanti ketika ia tumbuh? 


“Jangan pisahkan dirimu dengan binatang,” pesannya. “Kamu lebih dekat dengan mereka daripada yang kamu bayangkan,” lanjutnya lagi.
Aku pun bertanya, seperti biasanya,”Biar apa, Ayah?”
“Biar kamu tidak sombong menjadi manusia,” ujarnya sambil tersenyum. Ia mengecup keningku, menebarkan selimut ke atasku. Mematikan lampu. Keluar dari kamarku tanpa suara.

Begitulah hubungan Zarah dan Ayahnya, sangat dekat. Bagi Zarah, Ayahnya adalah dewa. Zarah selalu terkagum-kagum dengan apa yang Firas katakan. Bahkan, Zarah pun tak bersekolah, karena Firas akan mengajarkan sendiri ilmunya kepada Zarah. Dan hal ini membuat Ibu, Abah, serta Umi geram. Konflik kedua.

Lalu suatu hari Firas terobsesi dengan Bukit Jambul. Bukit yang tidak jauh dari desanya dan dikenal angker oleh warga. Tak ada seorang pun yang berani mendekati bukit itu. Karena obsesinya ini Firas sampai mengorbankan keluarganya. Konflik ketiga. Kenapa Bukit Jambul begitu penting hingga Firas meninggalkan rumah? Meninggalkan anak kesayangannya Zarah? Meninggalkan Ibu dan Hara? 

Ayah menangkupkan tangannya di pipiku, berkata sungguh-sungguh, “Kita manusia, adalah virus terjahat yang pernah ada di muka Bumi. Suatu saat nanti, orang-orang akan berusaha meyakinkanmu bahwa manusia adalah bukti kesuksesan evolusi. Ingat baik-baik, Zarah. Mereka salah besar. Kita adalah kutukan bagi Bumi ini. Bukan karena manusia pada dasarnya jahat, melainkan karena hampir semua manusia hidup dalam mimpi. Mereka pikir mereka terjaga, padahal tidak. Manusia adalah spesies yang paling berbahaya karena ketidaksadaran mereka.”-Hal.71 

Setelah kepergian Firas, Zarah akhirnya bersekolah. Ia masuk ke tingkat yang lebih tinggi dari seharusnya, karena kecerdasannya. Zarah memang pintar. Selalu mendapat peringkat atas. Tapi mengenai agama, nol besar. Firas tak pernah mengajarkannya. Konflik keempat. Di bangku sekolah ini Zarah bersahabat dengan Kosoluchukwu, murid baru, pindahan dari Nigeria. Bagaimana Zarah menghadapi semua ini? Kehilangan ayahnya dan dianggap Ateis? Baca bukunya :p

Aku pun merasakan luapan amarah dalam hatiku. Mengapa mereka harus meradang karena pertanyaan-pertanyaanku? Seolah-olah semua yang kuucapkan adalah hinaan? Kenapa mereka tidak bisa melihatnya semata-mata sebagai pertanyaan? Mengapa kata “agama” dan “Tuhan” menyulut api dalam setiap hati orang yang kutemui? Dan sungguh aku muak dengan kata satu itu. Ateis. Bagiku, ini bukan soal percaya atau tidak percaya, melainkan tidak adanya kesempatan untuk mempertanyakan. -hal.131

Ketika semua orang telah menyerah pada Firas. Tidak dengan Zarah. Hingga ia memutuskan keluar rumah setelah bertengkar hebat dengan Ibunya. Konflik kelima. Pertengkaran fatal macam apa yang menyebabkan Zarah hengkang? Baca bukunya :p

Pada hari ulang tahunnya yang ke-17. Zarah mendapatkan paket sebuah kamera langka Nikon FM2/T, tidak ada nama pengirim yang tertera pada paket tersebut. Tapi Zarah yakin, jika kamera tersebut ada hubungannya dengan Ayah. Karena itu, Zarah memutuskan belajar fotografi pada Pak Kas, teman Ayah yang berprofesi sebagai tukang foto di Kebun Raya Bogor. Di bagian ini, kita akan diajak Dee memahami fotografi dengan bahasa manusia awam.

“Kamu harus peka lihat arah cahaya itu ke mana dan bagaimana. Jangan jidat orang kamu tegak luruskan dengan sinar matahari, nanti mukanya belang-belang. Jangan orang suruh menentang matahari, nanti matanya nyureng. Jelek. Kalau matahari sudah terlampau tinggi dan kuat, cari tempat yang agak teduh biar fotomu ndak terlampau kontras. Bagusan, ya, matahari jam segini. Sore-sore atau pagi-pagi, atau waktu langit berawan.” -hal.162

Kemudian, sampailah Zarah ke kalimantan. Ia memenangkan lomba fotografi dengan foto yang tak pernah ia kirimkan. Setelah empat hari tiga malam berlalu, yang juga menandakan liburannya telah berakhir, Zarah memutuskan untuk tidak ikut pulang dan tinggal di Kalimantan. Kenapa? Baca bukunya :p

Pada daratan kalimantan ini kita dikenalkan pada alam. Ada banyak keunikan flora dan fauna yang akan menambah wawasan, dan bisa jadi, setelah baca buku ini kalian akan lebih menghargai alam. Pada bagian ini juga aku baru tahu, jika kunang-kunang betina akan membunuh kunang-kunang jantan saat mereka kawin. Juga mengapa gigitan lintah membuat darah kita sukar membeku, karena lintah memompakan hirudin, zat antikoagulan yang menghambat pembekuan darah. 

Jadi makin benci sama hewan lunak itu. Percaya nggak percaya, kamar mandi di kost, kadang ada lintah segede jempol tangan dan sepanjang jari telunjuk nemplok dengan santainya. Seoalah dia “pulang”! Nyaman, lembap, bersih, dan wangi. Ujung-ujungnya, aku terpaksa pungut dia dengan tissue setelah disodok-sodok pakai sikat gigi yang sudah nggak kepakai, biar jatuh dari tembok. Setebal apa pun tissue yang kupakai, tetep, rasa gembul dan lunak itu teraba. Kan kampret!

Ok, stop curhatnya :)

Meski penyendiri, tidak berarti orangutan tak mengenal kesetiaan. Justru karena sifatnya soliter, orangutan amat jujur. Dalam tindakan terkecilnya sekalipun, manusia selalu dibayangi motivasi sosial, manusia butuh justifikasi dari lingkungannya, orangutan tidak. Manusia perlu konfirmasi berulang dalam hubungan antarsesama, entah itu pasangan, sahabat, atau keluarga. Kita gemar menguji cinta. Orangutan tidak. Ikatan orangutan terjadi sekali dan bertahan selamanya. -hal. 220

Tak hanya Kalimantan, petualangan Zarah berlanjut ke London, dan berbagai Negara lainnya. Di London ia digembleng oleh Paul dan Zach menjadi fotografer profesioanl. Selain petualangan yang seru, ada juga cinta yang tersisip. Membikin novel ini makin segar, apalah arti sebuah kisah tanpa kisah asmara? Hehe

Selain dengan petualangan yang kece, aku juga jatuh cinta dengan tokoh Zarah. Dia berani berbeda, teguh pada pemikirannya, dan berani menjalani kehidupan yang ia pilih TANPA RENCANA! Zarah percaya pada dirinya sendiri. Ia bertahan hidup hanya dengan mengandalkan intuisinya. Karakternya yang percaya diri ini, benar-benar bikin mrinding!

Dan beberapa kutipan ini akan membuktikan, betapa menariknya sosok seorang Zarah :)

Ada momen tatkala kita perlu menunjukkan dominasi. Ada momen tatkala kita harus diam membatu. Ada pula momen tatkala yang terbijak adalah lari. Dan dibutuhkan insting jitu untuk menentukan momen manakah yang tengah kita hadapi. -hal.246

Akhirnya kumengerti betapa rumitnya konstruksi batin manusia. Betapa sukarnya manusia meninggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan sekarang. Aku kini percaya, manusia dirancang untuk terluka. -hal.264

Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai dimana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will to go on.” -hal.426

Novel ini KEREN banget pokoknya! Bahasanya mudah dipahami, tidak seperti novel pertama dan kedua yang bahasanya susah dipahami dan banyak istilah-istilah ilmiah. Partikel dengan sukses bikin aku nangis, ketawa, gregetan, emosi, tak habis pikir, dan rasa tak terdeskripsikan lainnya. Atau dengan kata lain, novel ini berhasil menyusup dengan sukses dan mulus pada pembacanya.

Buat kamu yang suka teka-teki, teori konspirasi dunia, dan alien, wajib baca! Dan di sini juga ada clue-clue yang nyambung dari novel sebelumnya. Dan salah satu review keren yang menyambung-nyambungkan ada di sini. Tapi awas, review di link itu mengandung spoiler, tapi menurutku menarik analisisnya :)

Super Recommended! 
Rating: 4 Bintang! 

Ps. Baca buku ini dari Pinjam di Perpusda Jakarta Pusat! #RamaikanPerpus

No comments:

Post a Comment

instagram