Tuesday, 8 November 2016

# Book Review

[Review] Dangerous Game by Christina Tirta

Judul Buku: Dangerous Games
Penulis: Christina Tirta
Editor: Donna Widjajanto
Desain Sampul: Dadan Erlangga
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-0524-0
Tebal: 366 halaman
Cetakan pertama, Mei 2014

Sinopsis:

Bagi Josephine alias Josie, masa lalu bukan hanya kenangan manis, tapi juga cinta yang suram dan berbahaya yang membayangi hidupnya. Setengah mati ia ingin terlepas dari perangkap itu.

Namun saat ia bertemu dengan kakak-beradik Mario dan Nicole, lagi-lagi ia terjerembap ke lubang yang sama. Mario yang memikat hatinya ternyata juga memikat hati Kayla, sahabatnya. Tapi bukan itu yang menyeret Josie ke dalam sebuah permainan berbahaya.


Nicole, memesona dan penuh misteri, menuntunnya ke dalam permainan yang tak ingin ia mainkan. Dan lagi-lagi Josie harus memilih antara cinta dan nuraninya.

Ini bukan sekadar kisah cinta segitiga.

Ini kisah cinta yang tidak biasa.

Kisah cinta yang menggiringmu ke dalam permainan berbahaya.


Hello again! 

Kali ini aku bertemu dengan kisah Josephine yang menurutku kehidupan dia memang drama banget. Novel ini bercerita dari sudut pandang si Josie ini. Menceritakan segala problematika kehidupannya yang amazing! Yang sebelumnya aku belum pernah baca novel metropop dari sudut pandang cewek yang berkepribadian seperti Josie ini, yang jelas Kak Christ (biasa aku panggil penulis novel ini kalau di Instagram atau di Wattpad :p) menciptakan tokoh yang nggak sempurna. Ya. Manusia memang tidak ada yang sempurna.


Tapi, sekali lagi, baru kali ini aku menemukan tokoh macam Josie ini dalam metropop.  Ok, sampai harus diulang dua kali ya, hehe… 



Jadi gini, Josie ini menurutku orang yang sangat mengagungkan cinta. Ia percaya kita nggak bisa milih bakal jatuh cinta sama siapa. That’s true! And I’m in! But, bukan berarti kamu nggak punya pilihan ketika jatuh cinta. Okay! Dalam kasus Josie, dia mencintai Kenzo yang merupakan tunangan Adela, kakaknya sendiri. Dan bukannya menahan atau memudarkan rasa itu, tapi Josie malah maju terus pantang munduuuurrr!!!
Mungkin aku memang orangnya mainstream dan terlalu mengikuti kode etik. But hey! She’s your f*cking sister! Maaf teman-teman, aku ternyata masih terbawa emosi. Haha


Memang novel ini benar-benar berbahaya! Pas udah baca prolognya aku nggak bisa berhenti baca sampai tuntas! Baiklah. Ini mau review ya bukannya curhat. Hehe… I’m so sorry


Back to the story. Jadi, selain perselingkuhan yang Josie lakukan dengan TUNANGAN kakaknya di masa lalu yang berusaha ia kubur, ada drama yang nggak kalah seru. Yaitu saat Josie pacaran dengan Mario tetangga baru di komplek tempat tinggal Kayla. Kayla adalah sahabat Josie yang juga menyukai Mario. Bahkan Kayla lebih dulu mengenal Mario lalu menceritakan perasaannya itu pada Josie. Tapi sekali lagi Josie memutuskan untuk berkhianat, sebelumnya ia menghianati kakaknya, sekarang ia menghianati sahabatnya. Tak hanya menanggung beban rasa bersalah pada Kayla, Josie juga harus menghadapi Nicole, adik tiri Mario yang psikopat! 


Awalnya Nicole muncul dengan kesan cewek manis yang innocent menawarkan pertemanan pada Kayla dan Josie. Lalu Josie menyadari ada sikap Nicole yang aneh. Terkadang Nicole sangat cute tapi kadang juga bisa bengis. Nicole, adik Mario yang cantik dan berlesung pipi ini ada indikasi menyukai kakaknya sendiri! 
Kurang gila apa coba nih novel? Haha… aku sampe kejang-kejang baca konfliknya, eh, okay ini agak lebay. Kajadian sebenarnya adalah geregetan sampai lapar hilang! Serius, sore ini aku belum makan sampai sekarang sudah jam 10 malem! GOOD JOB KAK CRIST!


Cinta itu seharusnya membuat hidupmu bebas dan bahagia. Bukan membuatmu merana dan tersiksa. – Adela, hal.198



Nicole mengambil peran penting dalam setiap konflik yang terjadi. Ia terus melancarkan aksi teror pada Josie, agar menjauhi Mario. Dan teror itu nggak main-main. Sampai melakukan penculikan segala. Orang waras macam apa yang sampai melakukan hal seekstrem itu?


Jangan pernah menyembunyikan kebohongan karena kebenaran akan selalu menemukan jalannya seperti bayangan selalu menemukan pemiliknya saat matahari beranjak pergi. – Nicole, hal.166


Tapi selanjutnya dijelaskan, memang Nicole mengalami gangguan jiwa. Seperti peribahasa, ada asap pasti juga ada api. Seperti halnya Nicole, ia memiliki masa lalu kelam yang menyebabkan semua perilakunya menyimpang. Trauma masa lalu yang akan membuat siapa pun memaklumi tindakannya. Dan saat masa lalu Nicole diuraikan dalam novel ini, Kak Christ seperti menegaskan, bahwa pada dasarnya tidak ada manusia yang jahat. Semua perilaku manusia yang buruk itu pasti ada alasan dibaliknya.


Lalu ada tokoh bernama Charlie, yang menurutku dia adalah penyegar. Di saat konflik sendang rumit, Charlie memberi angin segar dengan banyolannya.


Kekurangan dalam novel ini, banyak typo dan salah sebut nama masih bertebaran. Ada juga adegan yang terlalu memaksa, yaitu ketika Mario dan Josie jadian. Nggak habis pikir aja, gampang banget mereka jadian. Okelah kalau Mario udah suka dari awal, tapi Josie? Dia mengorbankan sahabat buat cinta yang sebenarnya dia sendiri nggak yakin? That’s awkward. Antara Mario dan Josie, aku nggak dapet feel sama sekali. Justru lebih kuat feelnya antara Kenzo dan Josie.


Beberapa typo dan awkward moment:


-          Percakapan Josie dan Kenzo:
“Sebodo Setan!”
“Eits, cewek kok ngomongnya sopan begitu sih?” – hal. 89 (mungkin maksudnya nggak sopan kali ya?)


-          Ya ampun! Pantas saja pakunya bisa tembus dengan mudah, kaus kaki Mario bolong! - hal.99 (ya kali kalau kaus kakinya nggak bolong paku nggak bisa nembus! Itu pakunya tembus sepatu gaes!)



-          Percakapan Adela dan Nicole:
“Bulan Mei, Nic. Kamu pasti kami undang.” Kali ini Adela yang kembali menjawab.
“Aih, sebentar lagi, ya? Senangnya… Aku pasti datang.” Adela sukses menampilkan topeng malaikatnya. Kemudian ia menoleh padaku. “Kamu pasti senang dong, Josie, punya kakak ipar sebaik dan seganteng Kak Hans?” kata-kata yang meluncur dari mulut Nicole tertengar manis dan berbahaya. – hal.179


Rating: 2,5 bintang! Walaupun banyak typo dan awkward moment. Tapi konflik di novel ini bener-bener menguras emosi jiwa! 
 

No comments:

Post a Comment

instagram