Tuesday, 8 November 2016

# On Going Story

[On Going Story] Hell Bound - Part 2: Leviathan



Bau harum kopi menyelesak masuk penciumanku. Mau tak mau membuatku terjaga dengan kepala berdenyut. Ingatan absinthe semalam secara seporadik kembali pada memori, membuatku seketika terbangun lalu melihat sekeliling. Dan ini bukan kamarku! Bukan juga apartemen Nik! Bagaimana ini? Aku dibawa pria cabul macam apa?

Pandanganku bertubrukan dengan foto berbingkai pada nakas samping tempat tidur. Seorang gadis cantik berambut sebahu sedang tersenyum lebar. Menyadari siapa gadis yang terabadikan dalam bingkai itu, membuatku sesak napas menahan emosi.

Segera kusingkap kasar selimut putih yang menutupi kakiku, lalu berderap menuju pintu membuka sedikit celah untuk memantau kedaan di luar. Saat pintu terbuka, aroma kopi semakin kental menusuk indra penciuman. Wanginya harum. Tapi tak cukup untuk meredakan emosiku. 




Tidak ada siapapun. Berjingkat, aku menuju sebuah pintu, yang kutebak adalah pintu keluar dari sarang serigala berbulu kelinci ini. Bagaimana aku bisa disini? Absinthe sialan! Nik sialain! Harusnya aku tidak meminum cairan haram itu! harusnya aku tidak ikut Nik ajeb-ajeb!

“Minum kopi dulu baru pergi.”

Suara gadis yang sangat kukenal menghentikanku memutar kenop pintu. Aku berbalik untuk menatapnya. Setelah hampir sepuluh tahun tidak bertemu, ia semakin cantik dengan kulit eksotisnya. Aurora Pradipta sahabat masa kecilku, si serigala berbulu kelinci.

Sebelum memangsa korbannya, ia akan bersikap menggemaskan dan manis macam kelinci. Tapi ketika rasa lapar tak lagi bisa ia kendalikan, tanpa segan Aurora akan mencabikmu tanpa ampun. Menghancurkan mimpimu tanpa belas kasih!

“Gimana aku bisa disini?”

“Nikhil yang bawa kamu.”

Kampret! Dari mana Nik kenal perempuan mengerikan ini sih?! 

“Dia itu sepupuku.”

What….

“Aku baru pulang dari Denmark minggu lalu. Jadi beneran kamu ya, orang yang sering Nik ceritain.”

The…..

“Aku kira bukan kamu. Cuma kebetulan aja namanya sama. Nama kamu kan pasaran.”

HELL!!!!

“Tapi setelah semalem Nik bawa kamu kesini. Aku pikir-pikir lagi, nggak banyak cewek yang punya nama kayak kamu. Alka Nareswari.”

Senyum kaku tercetak dibibirku. Aku tidak akan kalah dengan dia! Tidak akan menangis seperti dulu. Tidak akan takut padanya lagi. “Walaupun aku nggak tau, kenapa Nik ninggalin aku di sini. But, thanks buat tumpangannya.”

Aurora tersenyum miring, menyebarkan aura mengerikan yang membuat bulu kudukku berdiri. Senyum itu sama seperti dulu. Saat ia berhasil menghancurkan target mangsanya.

Ingin cepat hengkang dari tempat ini, aku segera berbalik memutar kenop pintu kasar. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Pintu ini terkunci. Tanganku mulai gemetar. Keringat dingin mengaliri pelipis dan punggungku.
“Boleh kan kita main-main dulu? Aku merindukanmu Al. Apa kamu nggak merindukanku?”

Ok. Dia lebih mengerikan dari srigala berbulu kelinci. Dia psikopat! Kakiku gemetar seiring dengan derap langkah Aurora yang semakin mendekat. Detak jantungku berdebum keras hingga membuat telingaku terasa berdenging, mau tak mau kurapatkan tubuhku ada pintu yang dingin ini. Kenapa pintu pun tak mau bekerja sama denganku? 

Tangan Aurora menyentuh pundakku membuatku terlonjak kaget, bersamaan dengan terbukanya pintu dari luar menyebabkan gravitasi menarikku. Sebelum tubuhku bertabrakan dengan lantai, sepasang tangan kekar menangkapku. 

“Kenapa Al? masih hangover?” tanya Nik yang kini merengkuhku.

Segera aku melepaskan diri darinya. Berani-beraninya dia ninggalin aku di tempat orang asing! Bagaimana kalau aku dicelakain? Atau dimutilasi? Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Pasti nanti namaku terukir dengan sempurna di batu nisan dengan anggota tubuh yang tidak lengkap. Hell NO! 

Tanpa mempedulikan ekspresi kebingungan Nik, aku segera menerobos keluar. Jika lama-lama di tempat ini, aku akan jadi mayat korban mutilasi beneran. Tanpa mempedulikan Nik, aku berlari sekencang-kencangnya menuju lift, ku tekan tombol ke bawah dengan tak sabar. 

Ting! Pintu lift terbuka, tanpa membuang waktu ku tekan tombol GF yang berarti Ground Floor atau lantai dasar. Ketika lift beranjak turun, sedikit banyak aku merasa lega telah menjauhi Aurora tanpa terluka. Tanpa bisa kukendalikan ingatanku melayang pada masa lalu. Ketika Aurora melakukan hal yang sangat mengerikan. Hingga kini ingatan itu masih jelas tertempel pada memori otakku. Masih segar. Seakan kejadian mengerikan itu baru terjadi kemarin.

>^.^<

Obrolan dan tawa menggema di ruangan, tempat semua peserta fashion show SMA Shelter bermakeup. Totalnya lima puluh perserta, perwakilan dua orang dari masing-masing kelas. Dari kelas X hingga kelas XII semuanya ada dua puluh lima kelas. Di antara mereka ada Aurora dan Aiman yang mewakili kelasku. Saat itu Aurora sudah selesai bermakeup dengan bantuanku dan beberapa teman lain.

Suara hiruk-pikuk berubah sunyi ketika Pelangi melangkahkan kakinya memasuki ruangan. Pelangi memang bisa disebut dengan kembang SMA Shelter. Cewek paling cantik seantero sekolah. Dan saat ini Pelangi tak hanya cantik. Ia luar biasa cantik. Makeupnya tidak terlalu tebal tapi sempurna. Bibir tipisnya dipulas dengan lipstik nude, sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Rambutnya disanggul modern twist dipadukan dengan kebaya Jawa, dan tak lupa dengan sepatu boot! Wow! Memang sih, tema fashion show kali ini adalah memadukan tradisional dengan modern. Tapi siapa sangka kebaya Jawa berwarna krem akan sangat cocok ketika dipadukan dengan sepatu boot

Tanpa sadar aku terus tersenyum takjub memandang Pelangi, “udah pasti dia yang bakal menang Ra.”
Aurora mendengus, membuatku mengalihkan pandangan padanya. Matanya berkilat aneh, membuat perasaanku tidak enak.

“Enggak kali ini Al. Tahun lalu udah dia yang menang. Kali ini, aku yang akan jadi pemenangnya,” Aurora berkata dingin, dengan senyum miring yang mengerikan. Sudah lama aku bersahabat dengan dia, tapi baru kali ini aku merasa ngeri melihat ekpresinya.

“Aku mau ke toilet bentar.” 

“Jangan lama-lama Ra, bentar lagi acaranya mulai.”

Aurora tidak menjawab, menoleh pun tidak. Sambil menunggu acara dimulai, kuputuskan untuk memberesi alat-alat makeup ke dalam Cosmetic Box. Setelah beres, aku memutuskan untuk keluar. Di sekitar panggung yang berbentuk huruf T itu sudah penuh dengan siswa-siswi, juga banyak siswa dari luar sekolah. Acara ini memang dibuka untuk sekolah lain dengan membeli tiket masuk yang harganya tidak terlalu mahal.
Di sisi kanan panggung kulihat beberapa orang dengan seragam merah berlogo salah satu stasiun TV terbesar di indonesia. Stasiun TV itu memang baru, tapi kabarnya posisinya sudah menempati lima besar dengan program-programnya yang kreatif dan antimainstream

“Katanya salah satu juri itu ada yang dari stasiun TV lho,” kudengar cewek kurus disampingku berkata antusias pada temannya.

“Serius?” teman ceweknya yang berdiri disebelahnya juga tak kalah antusias.

“Iya, kabarnya pemenangnya bakal diundang ke acara talkshow gitu.” 

Aku bergegas keluar dari kerumunan. Segera ingin mengabarkan kabar bahagia ini ke Aurora. Aku yakin ia pasti akan senang sekali. Tak sabar, aku pun berlari ke ruang makeup tadi. Berhenti di depan pintu sejenak untuk menenangkan napasku. Kuintip dari kaca jendela, ruang makeup sudah sepi. Mungkin semua peserta sudah bersiap-siap di belakang panggung. 

Kembali kularikan kakiku ke arah panggung. Sesampainya di sana, mataku berkeliling mencari sosok Aurora. Ia sedang mengobrol dengan Pelangi. Dan anehnya mereka terlihat akrab.

Makeup kamu mulai luntur tuh Lang.”

“Oh ya? Emang udah dari subuh tadi aku makeupnya di salon langganan mamaku.”

“Bukannya nggak boleh ya makeup di salon?”

Pelangi tertawa geli, “itu kalau ada yang tahu. Kamu nggak bakal aduin aku kan Ra?”

“Mana mungkin sih aku aduin kamu.”

Cara Aurora memandang Pelangi dan caranya berbicara kepada gadis itu terlihat terlalu ramah. Dan itu malah membuatku khawatir. Tidak biasanya Aurora seperti ini.

“Hai Ra,” kuhampiri mereka dengan senyum lebar, “hai Lang.”

Senyum tak suka Aurora menyambutku, bertolak belakang dengan senyum ramah Pelangi. 

Aurora menyodorkan bedak kecil pada Pelangi. “Bedakan dulu gih, aku denger, salah satu juri di depan dari stasiun TV lho.”

Tanpa ragu-ragu Pelangi memulaskan bedak itu dengan hati-hati.

Ting! Pintu lift terbuka, mencerabut paksa bayangan yang tadi mampir ke otakku. Segera aku keluar dari kotak sempit itu, berjalan cepat ke arah lobby. Kebetulan sekali ada orang yang baru saja turun dari sebuah taksi. Tanpa menunggu, aku berlari dan duduk di kursi penumpang, menyebutkan alamat rumahku lalu kembali teringat lamunan yang terputus tadi.

Aku bergidik ngeri mengingat apa yang terjadi setelah itu. Wajah pelangi bengkak dan merah saat acara fashion show berlangsung, ia berusaha menggaruk wajahnya setiap ada kesempatan, yang malah membuat wajahnya semakin merah. Sebelum acara selesai, Pelangi sudah ditarik turun panggung oleh panitia. Segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Setelah acara selesai, aku ke toilet mencari Aurora. Aku yakin ia sedang membersihkan makeup dan ganti baju di sana. 

“Hai Al,” Aurora tersenyum senang ketika berpapasan denganku. Rupanya ia sudah berganti baju.
“Aku pengen ngomong sama kamu.”

“Oke, yuk kita pulang bareng.”

Aku mengikuti Aurora ke parkiran. Sebelum memasuki mobilnya mataku berkeliling mengamati suasana. Tidak ada orang. “Kamu sengaja kan, bikin Pelangi kayak gitu?”

Aurora menghentikan langkahnya, berbalik dan menghadapku dengan senyum miring. “Jadi kamu udah tau ya?”

“Semua orang yang lihat kamu kasih bedak ke Pelangi, pasti bakal nebak gitu Ra,” suaraku dalam menahan emosi. Aku hanya tidak mau, Aurora sahabatku ini mematikkan nuraninya hanya demi sebuah kemenangan.
“Well, jadi sekarang aku nggak perlu sembunyi lagi dari kamu.”

“Maksud kamu?”

Ia tertawa, “sebenarnya aku juga udah capek sembunyi terus Al. Sekarang aku pengen terang-terangan. Kasih tau dunia, siapa aku sebenarnya.”

“Kamu ngomong apa sih Ra?”

Aurora maju selangkah, lalu berbisik di telingaku, “aku ini terikat dengan Leviathan Al. Semua hal yang menghalangiku akan hancur.”

Aku mundur selangkah, lalu tertawa, “kamu bercandanya bisa aja Ra.”

Kerutan di dahi Aurora semakin dalam, menandakan ia memang sedang tidak bercanda. Membuat kakiku mendadak lemas.

“Jadi, yang suka nyelakain teman-teman kita dulu itu kamu? Yang ngebunuh binatang kesayanganku? Yang…. Yang…”  aku tercekat, dadaku bergemuruh, mataku terasa panas. Ini nggak mungkin kan Ra? Aku hanya bisa bertanya dalam hati ketika Aurora meninggalkanku dalam ketidakpercayaan.

 
Bersambung... 

Part 1 bisa dibaca di sini 

No comments:

Post a Comment

instagram