Tuesday, 1 November 2016

# Cerita Bersambung # Novel

[On Going Story] Hell Bound - Part 1: Asmodeus

"Life is no rules!" Teriak Nik geram dilanjutkan dengan hisapan dalam pada nikotin di tangannya, asap pekat keluar dari mulut dan hidungnya bersamaan dengan hembusan keras napasnya.

"Kalau aturan nggak ada, dunia ini bisa hancur. Kita ini homo socius! Makhluk sosial. Kita nggak bisa hidup sendiri," kubalas perkataannya dengan lembut. Orang yang keras macam Nik nggak bisa jika balik dikerasin, yang ada dia makin mengamuk. "Makanya harusnya kamu mikirin perasaan cewek-cewek yang udah kamu hancurin."

Tawa Nik menyembur memenuhi ruangan kantor yang kini sudah sepi. Harusnya di ruangan ini tidak boleh merokok. Tapi, bukan Nikhil Anantadewa namanya jika ia patuh peraturan. Pria akhir dua puluhan, berkerja sebagai Freelance Engineer di kantor tempatku bekerja. Sekaligus partner in crime dan satu-satunya sahabatku. Orang yang apa adanya, tidak munafik dengan berpura-pura baik. Nik memang terkenal playboy, mengandalkan wajah tampannya ia mampu membuat wanita macam mana pun bertekuk lutut. Baginya wanita cantik itu semacam tantangan yang perlu ditakhlukkan. Dan sebenarnya tanpa usaha keras pun banyak wanita yang dengan rela menjatuhkan diri padanya. Walau mereka tahu, bersama Nik hanya sebatas one night stand. Seakan Asmodeus selalu mendukung dan mempermudah jalannya. Selalu saja ada wanita yang menemani malam-malam liarnya.


Dulu sekali Nik pernah berkata dengan wajah serius, "Aku udah terikat dengan Asmodeus Al. Sering banget setan sialan itu mampir di mimpiku. Selalu ngingetin kalau aku nggak bakal lepas darinya."
Pernyataannya itu hanya aku tanggapi dengan tawa. Lalu berhenti saat raut wajah Nik tidak berubah. 

"Serius?"

"Apa mukaku keliatan lagi becanda?

Mulai saat itu, aku percaya jika Nik memang memiliki ikatan dengan Asmodeus, sang penguasa nafsu birahi. Ada yang bilang Asmodeus adalah salah satu pangeran neraka atau salah satu raja neraka. Entahlah mana yang benar. Karena itu semua hanya legenda. Aku tidak percaya jika Asmodeus itu ada, sampai Nik meyakinkanku dengan wajah super seriusnya. Terbiasa dengan wajah ngehenya, tiba-tiba wajah serius Nik menampakan diri. Serupa matahari total yang terjadi di tempat yang sama dalam kurun waktu 375 tahun sekali. Macam Nik dengan wajah seriusnya waktu itu! Bagaimana aku tidak percaya? Mustahil kan?!

"Apa kamu buta? Dunia ini emang udah hancur Al. Dan para wanita itu, mereka yang mengemis jalan sama aku. Padahal mereka tau aku ini orang bebas." suara Nik kembali memenuhi ruangan kala tawanya sudah berhenti. Menyeretku kembali dari memori yang meretas lipatan otak.

"Tapi setidaknya dengan peraturan, nggak memperparah kehancuran itu." Aku masih kekeuh dengan pendapat awalku. Peduli setan dengan pendapatnya, yang pasti peraturan itu dibuat ya untuk ditaati, bukan untuk dilanggar!

"Udahlah capek ngomong sama kamu." Nik menyambar jaket jinsnya yang tersampir pada kursiku lalu mengenakannya. "Ayo aku antar pulang. Nanti sekalian mau ajeb-ajeb. Merefresh otak. Biar nggak kaku kayak kamu."

Kutimpuk ia dengan spidol boardmarker, tapi dengan gesit Nik berhasil menghindar. Lalu memeletkan lidahnya diikuti dengan goyang itik yang mau tak mau membuatku tergelak. "Dasar sableng!"
Sayang sekali wanita-wanita cantik itu tidak pernah melihat kekonyolan Nik yang ini. Sikap cool memang menjadi trademarknya, sebagai cover terbar pesona yang tak pernah gagal dan selalu berakhir dengan rasa penasaran. Memicu cewek-cewek itu untuk mengejar Nik sebagai pelampiasan rasa penasaran yang akan menginfeksi dan menyebar jika tidak segera dituntaskan.


>^.^<


Sudah tak terhitung berapa kali para perempuan cantik hingga super cantik itu tiba-tiba menghampiriku di kantor hanya untuk meminta bantuan agar Nik mau menjadi pacar mereka. Entah darimana mereka tahu jika aku ini sahabat Nik, mungkin dari mulut ke mulut para cewek-cewek itu. Bahkan mereka punya semacam fanbase untuk Nik. Sudah macam artis korea saja!

Aku dan Nik itu ibarat yin dan yang. Bertolak belakang tapi tak membedakan. Dan saling melengkapi. Kami bertemu saat kita sama-sama maba di UI. Aku yang tidak pandai berteman di pasangkan satu kelompok dengan dia saat ospek. Penampilan Nik masih culun dan kotor. Rambutnya gondrong sebahu agak ikal. Dan ia selalu mengenakan kemeja panjang yang bagian paling atasnya selalu dikancingkan serta jins belel dan sepatu kets cokelat tua -yang mungkin dulunya berwarna putih. 

Seusai ospek berakhir aku jarang bertemu Nik. Popularitasnya naik, hingga beberapa gosip beredar memenuhi seluruh telinga penghuni kampus jika Nik itu berengsek, rules breaker tapi menggemaskan.
Aku baru bertemu dengan Nik lagi saat memasuki semester dua di kantin. Tiba-tiba ia duduk di depanku saat aku makan sendiri. Dan memang, aku selalu sendiri. Ia memakai kaos tanpa lengan hitam bergambar Nirvana dan jins belel kebanggaannya. 

Setelah ngobrol aku baru tahu alasan Nik selalu menggunakan kemeja kancing itu waktu ospek, untuk menutupi tatto dua segitiga terbalik yang saling bersinggungan di leher depannya dan juga tulisan latin "rather than love, than money, than faith, than fairness; give me truth", yang kutahu itu adalah salah satu perkataan Christopher McCandless dalam film Into The wild

"Aku suka film itu juga." Ku tunjuk tatonya itu.

"Itu film favoritku sepanjang masa. Mau nonton berkali-kali juga nggak bosen."

"Jadi kutebak paham no rules kamu itu terinspirasi dari film itu ya?"

Nik menggeleng, tampak berpikir. "Not really. Aku cuma ingin freedom Al. Dan jangan lupa, happiness is only real, when shared." 

Aku terbahak sejadi-jadinya. Jadi menurut Nik, one night stand dan mempermainkan perempuan itu termasuk dalam kategori membagikan kebahagiaan? "Sinting!"

Tawa menggelegar Nik menyatu dengan tawaku. Seketika kami menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kantin. Thanks to Christopher McCandless, mulai saat itu kami mendeklarasikan diri menjadi sahabat. Hingga saat ini, setelah satu windu berlalu kami masih bersahabat. 

>^.^<

Suasana bar ini sangat ramai dengan asap rokok mengepul dimana-mana. Aku sampai tersedak dibuatnya. Pandangan mata juga tidak bisa jauh-jauh menelusuri tempat yang hanya diterangi cahaya temaram dan lampu disko yang remang. Bar ini cukup besar. Ada ratusan orang sedang bergoyang mengikuti irama Proxy original mix oleh Martin Garrix yang sedang menghentak.

Nik mencoba untuk menarik tanganku agar aku berjalan lebih cepat, tapi aku sengaja memperlambat jalanku. Mungkin ini adalah keputusan tergila yang pernah kubuat. Menerima ajakan Nik ke tempat haram ini. Bukannya tertidur pulas di rumah setelah melanjutkan Vampire Diaries season 8, yang konon akan menjadi season terakhir serial Vampire itu. 

Nik menggelengkan kepalanya sejenak lalu melanjutkan langkahnya. Tak berapa lama ia tersenyum lebar pada seseorang. Aku melihat di kejauhan ada seorang wanita bertubuh kurus tapi berdada besar. Bagaimana ia punya dada sebesar itu jika tubuhnya hanya tulang berbalut kulit? Membuatku sesak napas saja!

Sekarang aku akan menjuluki wanita itu dengan si Damon, akronim dari dada montok. Dan yang terpenting bukan Stefan Salvatore yang kece, tahu kan? Adik Damon dalam serial Vampire Diaries.

Si Damon sedang melambaikan tangan pada Nik dengan senyum tak kalah lebar. Ia berjalan ke arah kami dengan angkuh. Pinggulnya bergoyang sempurna. Rambutnya yang hitam panjang mengikuti lenggokan tubuhnya. Wanita itu memakai blues biru tanpa lengan dengan potongan dada rendah hingga belahan dadanya terekspos sempurna. Paha mulusnya juga terlihat berkilau di tempat yang remang begini.

"Hi Sweetheart." Si Damon memeluk Nik erat. Seakan enggan melepaskannya.

Nik terlihat mengatakan sesuatu pada Damon, yang membuat senyumnya seketika menghilang. Tapi aku tidak bisa mendengarnya dari sini. Musiknya terlalu keras.

Si Damon mengalihkan pandangannya padaku setelah pelukan menjijikkan mereka terlepas.

"Kenalkan ini Alka." Suara Nik sedikit berteriak.

Dengan enggan si Damon itu mengulurkan tangannya. "Alice."

Aku menyambut uluran tangannya, dan dengan tergesa Alice melepaskannya. Seakan aku memiliki penyakit mematikan jika bersentuhan lama-lama akan menular padanya.

"Ayo aku antar ke meja favoritmu darling!" Alice mengatakannya dengan keras.
Mungkin dia ingin aku mendengarnya. Tadi Sweetheart sekarang Darling?! Wanita ini memang sangat cocok dengan Nik. Sama-sama menjijikkan. Aku bergidik memikirkan hubungan mereka berdua. Lalu berjalan ke arah yang berlawanan. Buat apa aku mengikuti mereka yang jelas-jelas ingin bercinta?

Aku memutuskan duduk di depan bartender yang sedang beraksi meramu minumannya dengan gaya yang sangat keren. Setelah selesai, banyak orang yang bertepuk tangan, tak terkecuali aku yang juga kagum dengan aksinya. Ide menarik tiba-tiba tercetus di rongga kepalaku. Bagaimana jika seorang barista juga beraksi seperti dia? Pasti sangat keren sekali.

"Mau pesan apa nona?" Bartender itu bertanya padaku.

"Beri aku Absinthe."

Bartender itu mengernyit. Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya. Seorang wanita ingin meminum Absinthe, yang kadar alkohol minuman itu sampai 45-74%.

"Aku sedang ingin menjernihkan pikiranku." Dari dada si Damon yang bikin mual. Kuteruskan kalimat itu dalam hati.

"Sendirian? Atau dengan seseorang? Aku tidak akan memberikan minuman itu pada seorang wanita yang sedang sendirian."

Aku terkekeh. Ternyata Bartender ini baik juga. "Siapa namamu?"

"Panggil saja Jo." Bartender itu tersenyum lalu meneruskan pekerjaannya.

Jo meletakkan sebuah gelas dengan cairan berwarna hijau di dalamnya. Tapi ia masih menahan gelas itu dengan tangan kanannya. "Sendiri atau bersama dengan seseorang nona?" ia mengulang pertanyaannya. 
Mungkin dia memang benar-benar mencemaskanku.

Aku tersenyum. "Aku bersama dengan temanku." Lalu aku merebut gelas itu dari tangannya. Hanya satu tegukan gelas itu tidak berisi lagi. Cairan pahit dan terasa panas mengalir perlahan ditenggorokanku.

Seketika kepalaku mulai berat. "Ah... ini memang Absinthe." Aku menaruh kepalaku diatas meja.

"Kau beri dia apa Jo?" terdengar suara seorang pria yang sangat kukenal bertanya khawatir.

"Jadi dia sama kamu? Untunglah dia tidak sendiri."

"Dia ini tidak bisa minum. Kau beri dia apa?" kini suara Nik mulai meninggi. Aku mencoba untuk menggapainya tapi tanganku hanya menyentuh udara. Aku ingin berkata jika ini bukan kesalahan Jo. Tapi kepalaku terlalu pusing.

"Absinthe." Suara Jo terdengar agak khawatir.

"Brengsek!" Nik mengumpat lalu membopongku keluar.



Bersambung....

Part 2 bisa dibaca di sini

1 comment:

  1. Ka Ning bagus bagus fiksi nya, coba di Wattpad sapa tahu bisa naik cetak

    ReplyDelete

instagram