Friday, 21 October 2016

# Book Review # Romance

[Review] Sequence by Shita Hapsari

Judul Buku: Sequence
Penulis: Shita Hapsari
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang Sampul: Citra Yoona
Pemeriksa Aksara: Intari Dyah P. & Intan P
Penata Aksara:  Endah Aditya
Ilustrasi Sampul: Shutterstock & iStock
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal:  254 halaman
Cetakan Pertama, Maret 2014

Sinopsis:

Klarissa

Bukan menempuh jenjang studi yang lebih tinggi. Bukan menjadi psikolog. Bukan menjadi konselor. Aku hanya ingin menjadi guru. Iya, guru bagi mereka anak-anak autis. Tidak cukupkah penjelasanku itu, Tedibear-ku Sayang?


Ine

Memiliki kedudukan penting di kantor. Memiliki anak yang cantik dan pintar. Memiliki uang untuk menunjang penampilan. Semua itu tidak penting bagiku. Karena yang kuinginkan hanya satu. Yaitu kamu selalu ada di sampingku, Sayang…

Yuni

Harus giat bekerja siang dan malam. Harus rela menerima caci maki dari atasan. Harus ikhlas menerima kenyataan. Namun yang terpenting, aku harus tegar melihatmu yang terus sibuk memainkan tumpukan kancing-kancing itu, Anakku Sayang….

Hi there, ini pertama kalinya aku nulis review sebuah novel. Aku hanya ingin mengungkapkan rasa yang berdenyut bersama jantung lalu menyebar ke seluruh tubuh bersama aliran darah saat indra penglihatanku menyusuri setiap aksara yang terabadikan dalam buku ini, dan sebagai pengingat juga kalau aku udah pernah baca novel ini. Daaaaan review ini dari sisi pribadi ya, yang masih amatir dalam dunia resensi atau review.

Here we go then.... 

Klarissa, Ine dan Yuni memiliki sisi masing-masing dalam buku ini. Dengan latar belakang masalah dan kondisi yang berbeda-beda. Seperti Klarisa, awalnya ia sangat bergantung dengan Tedibear, panggilan sayang pada pacarnya yang bernama Tedi. Semua keputusan yang menyangkut masa depannya atas saran dari sang pacar. Dan tiba ketika Klaris memiliki tujuan sendiri. Cewek lulusan psikologi dan sedang bekerja di sebuah perusahaan ternama ini ingin menjadi guru untuk anak-anak luar biasa. Namun sayangnya Tedi tidak memberikan reaksi positif atas pilihan Klaris.
Terlalu sering berbeda pendapat dengan Tedi membuat hati Klaris bimbang. Apalagi ditambah dengan kehadiran Chocky, sang kepala kurikulum di Sekolah Hebat. Sekolah tempat Klaris observasi mengenai anak-anak spesial.
Mengapa, sesal Klaris, selalu dibutuhkan kehadiran atau kepergian orang lain untuk mencari tahu kedalaman hati? - hal. 150
Cinta menunjukkan kekuatan atau kelemahannya saat ada sesuatu yang menimbulkan pergesekan kepentingan dan menuntut kompromi. - hal. 174

Ine adalah Vice President di kantor Klaris bekerja, sudah berumah tangga dan memiliki seorang putri bernama Lana. Memiliki keuangan yang lebih dari cukup, tetapi keluarganya tidak harmonis. Suaminya, Herman, memiliki gelagat jika ia ada main dengan perempuan lain. Karena itu Ine menyewa detektif untuk menyelidik suaminya. Dan dalam perjalanan ingin memergoki suaminya ada main, Ine malah tergoda dengan seorang chef muda dan tampan, yang ternyata memiliki hubungan juga dengan putri semata wayangnya.
Seorang penjaga lift memandunya mengoperasikan smart elevator. Rupanya semua bagian gedung ini diberi embel-embel "smart" di depan namanya. Sayangnya teknologi mutakhir nan pintar ini mengharuskan penggunanya untuk diedukasi dulu. Teknologi pintar mestinya sudah tak butuh pengguna pintar juga, dong? Ine tak tahu apakah itu paradoks atau hanya dirinya yang gagal memahami hakikat teknologi. - hal.155
Kesempatan kedua yang lebih penting bagi Ine adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Lana. Ia masih bisa bertahan hidup meskipun kehilangan cinta suaminya. Namun, ia tak sanggup kehilangan cinta anaknya atau kehilangan kesempatan untuk menjadi ibu yang baik. - hal.221

Lalu Yuni, pramukantor yang bekerja di tempat Klaris dan Ine bekerja. Ia memiliki seorang putra bernama Dewa yang terlambat bicara dan memiliki gejala autis. Hanya satu keinginannya, membuat Dewa seperti anak-anak yang lain. Paling tidak Dewa memanggil namanya dan suaminya. Dan menurutku ini adalah problem yang paling menyentuh hatiku. Mungkin karena aku paling gampang tersentuh jika berhadapan dengan kisah seorang anak :)

Diantara mereka bertiga terjadi hubungan yang saling berkaitan. Aku pun sempat terkecoh. Dan emosi turut tersulut ketika membaca rangkai demi rangkai paragraf di novel ini. Penulisnya berhasil membelokkan keyakinan pembaca dengan kasus kunci yang menyadarkan Ine, menentukan kisah asmara Klaris dan membantu Yuni menemukan jalan keluar masalahnya.

Ketertarikanku membeli novel ini di pameran buku Gramedia Matraman sejujurnya karena ada embel-embel 'Pemenang, Naskah Pilihan, Lomba Novel "Wanita Dalam Cerita". Menurut pengalaman, novel hasil lomba terjamin ke'keren'nanya. Dan terbukti bahasa di novel ini lugas, tidak membosankan, walau kejutan yang disisipkan terkesan hanya sebagai formalitas saja. Tapi novel ini berhasil membuatku baca sampai habis. Karena buat pecinta teenlit dan metropop macam aku yang biasanya disuguhi bahasa gaul, dan tema yang diangkat juga ringan, memang agak sedikit berat.

Dan juga kekecewaan sedikit memenuhi benak, saat ada satu tokoh yang hanya sebagai pelangkap. Jimmi, adik Klaris. Karena Jimmi menjadi tokoh pembuka dengan Klaris. Aku berharap Jimmi juga punya andil yang cukup banyak. But, he's NOT. Kekecewaan itu sedikit terobati dengan happy ending yang cukup manis.

Rating: 3 Bintang! 

PS. Apakah disini ada yang suka mendengarkan musik sembari membaca? Sering sekali kebetulan yang entah kenapa bisa begitu, lagu yang aku dengar menyuarakan adegan yang sedang kubaca dalam novel. Contohnya, saat adegan.... eh, nggak jadi ajah! haha... nanti takut spoiler :p


4 comments:

  1. jadi penasaran dan mau baca juga nih!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo baca kak, bagus buat melarikan diri dari kenyataan :p

      Delete
  2. Aku komen karena penata aksaranya temanku, hihihi. Sorry OOT mbak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah keren, temennya editor, hehe
      makasih sudah komen ya :)

      Delete

instagram