Tuesday, 6 January 2015

# Cerpen

Rok Mini Bulan



Di depan papan pengumuman tampak bergerombol siswi dengan seragam putih abu-abu. Mereka berebut ingin tahu, dimana kelas mereka setelah kelas dua nanti. Aniel, yang dicalonkan menjadi kandidiat untuk ketua osis menatap heran pada kerumunan itu. Rok yang dulunya dibawah lutut sekarang berubah menjadi diatas lutut dan dipasangkan dengan atasan yang kurang bahan. Banyak bagian tubuh itu ingin mendesak keluar, hingga jadinya tidak rata dan jahitan baju mereka seolah akan segera jebol.

Kening Aniel semakin mengkerut, bibirnya manyun dengan tangan disilangkan di depan dada. Ia bersiap untuk menggeleng ketika ada salah seorang cewek yang medesak kerumunan itu dengan paksa. Kali ini keningnya tidak hanya berkerut tertapi sudah kribo yang ngalahin kribonya rambut afro. Mulutnya pun ternganga. Pakaian cewek itu lebih parah, mungkin jika cewek itu nungging belahan pantatnya akan terlihat dengan atasan yang tidak kalah mepet. Ah, apa mungkin dia memakai G-String? Bukan. Bukan itu yang Aniel pikirkan.


Aniel segera melepas jaket yang ia pakai dan segera berlari kearah kerumunan itu. Dengan paksa pula Aniel menyeruak ke kerumunan yang kali ini semakin heboh karena kedatangan cowok cakep. Cowok memang langka di SMK yang mayoritas siswa perempuan. Napas Aniel tersengal. Segera ia menarik cewek rok mini itu dengan paksa.

Lalu dipakaikannya jaketnya pada pundak cewek itu.”Kamu itu mau sekolah apa mau pamer badan?”
Cewek itu menatap Aniel galak, “Elo buta?”

“Apa?” Desisnya. Dilihatnya nama di dada cewek itu. Bulan T. Dewi.

Bulan menatap Aniel tepat dimanik mata. “Gue pakai seragam sekolah, masa iya mau ke sawah.” Suaranya dalam dan penuh tekanan.

Aniel menjauhkan diri, lalu memandang Bulan dari bawah ke atas. “Ini yang namanya seragam sekolah?”

“Gue nggak butuh jaket lo.” Dan dilemparkannya jaket kuning itu ke kaki Aniel.
Lagi, kening Aniel menjadi kribo.

☾☾☾☾☾

Aniel adalah cowok yang sudah langka bahkan hampir punah dizaman serba internet seperti sekarang. Cowok lemah lembut berbudi bawa laksana itu mencintai budaya tanah kelahirannya yaitu wonogiri terutama wayang dan campur sari. Saat yang lain sibuk dengan Hollywood, rock, pop atau yang paling baru drama korea dan k-pop.

Aniel juga akan memakai sepatu hitam saat yang lain memakai sepatu kets mejikuhibiniu. Bahkan saat liburan atau jalan-jalan pun begitu, sepatu hitamnya tidak pernah dilepasnya. Pokoknya harus sopan dimana pun cowok itu berada. Dan baju wajibnya adalah batik. Pak RT dikampungnya saja merasa tersaingi sampe depresi dan mencoba untuk menceburkan diri kesumur.

Baju seragam Aniel juga gombrong dan selalu dimasukkan ke celana. Pokoknya peraturan sekolah harus ditegakkan setegak-tegaknya. Tidak heran jika Aniel ditunjuk langsung oleh sang penguasa tertinggi untuk menjadi calon ketua osis.

Alasan mengapa Aniel ngebet banget pengen jadi ketua osis adalah ia ingin membrantas rok mini, baju kurang bahan, pemandangan sepatu yang menyilaukan dan para geng yang suka berbuat semau mereka sendiri. Karena itu bisa membuat diskriminasi pada sebagian siswa yang kurang mampu. Maka dari itu Aniel berusaha keras menjadi murid teladan untuk mengambil hati Kepala Sekolah dan teman-temannya agar tujuannya itu bisa tercapai.

☾☾☾☾☾

Hari senin adalah hari yang paling ditunggu Aniel. Karena dia akan kembali bertemu dengan teman-teman dan mendapatkan ilmu baru untuk bekal masa depannya kelak. Aniel berjalan santai sambil nyinden saat menuju kelas barunya. Menunjukkan suasana hatinya yang riang gembira.
Kelasnya masih kosong melompong. Aniel memilih bangku paling depan dan tentu saja yang tepat di depan guru. Bangku itu tempat strategis untuk menghindar dari para pencontek, tanpa perlu memberikan dalih yang memusingkan. Aniel mengambil buku matematikanya untuk belajar bab pertama yang nanti akan diterangkan.

BRUK!!!! Sebuah tas dilemparkan tepat disamping Aniel.

“Hari pertama sekolah itu nggak bakal ada pelajaran. Paling ntar juga pulang cepet.”

Aniel megerutkan keningnya. Suara itu lagi, si rok mini. “Ngapain kamu duduk disini?”

“Terus gue harus duduk dimana?”

Aniel mengitarkan padangannya keseluruh kelas. Ternyata semua tempat duduk sudah terisi. Kelas sudah gaduh. Terlalu sibuk belajar membuatnya mengabaikan sekitarnya. Kebiasaaan buruk. Aniel mendengus.

“Nggak usah kayak kebo gitu kali!”

“Apa?”

“Gue tau, gue pake sepatu merah. Lo nggak akan nyeruduk gue kan?”

‘Dasar wong edan!’ Aniel mengumpat dalam hati. Pertanda buruk dia harus duduk sama kuntilanak satu ini. Salah-salah dia bisa kena virus. Bukannya jadi siswa teladan malah jadi genderuwo.
Bulan mengeluarkan sebuah headphone dan sebotol kutek hitam. Ia memasang headphone di telinganya dan mulai asyik mengecat satu per satu kukunya.

Aniel agak takjub. Baru kali ini dia bertemu dengan spesies seperti Bulan. Dulu saat dikelas sepuluh semua temannya klimis-klimis, rapi dan selalu taat peraturan. Tidak pernah neko-neko atau bahkan seekstrim apa yang Bulan lakukan. Aniel terlalu asing dengan pemandangan disebelahnya yang disaksikannya secara live.

“Selamat pagi anak-anak.” Suara menggelegar Pak Tomo wali kelas baru Aniel menyapa. “Wah, Aniel disini juga ya. Kamu yang jadi Ketua kelas baru ya.” Pak Tomo tersenyum lebar.
Seisi kelas mengikuti pandangan Pak Tomo. “Ada yang keberatan?”

“Tidak Pak.” Koor anak-anak terdengar gembira.

“Wah, jadi elo anak kesayangan guru ya?” Bulan berbisik sambil meniup-niup kukunya yang masih basah.

Biasanya Aniel akan bangga disebut anak kesayangan para guru. Tapi tidak kali ini. Ada nada ejekan pada kalimat Bulan barusan. Itu membuat Aniel menahan napas. ‘Dasar kuntilanak.’

Tangan kanan Aniel terangakat, “Tapi Pak saya dan teman-teman belum berkenalan. Akan lebih baik jika kita berkenalan terlebih dahulu.”

“Baiklah, perkenalannya dimulai dari kamu ya Niel, nanti berurutan.”

Aniel berdiri dari tempat duduknya. “Baik Pak, teman-teman perkenalkan nama saya Aniel Andy Hermawan. Saya dari Wonogiri. Kota berbudaya yang terkenal akan wayang kulit dan campur sarinya. Untuk makanannya ada bakso, tiwul atau nasi yang terbuat dari singkong yang sangat gurih sekali. Sangat pas jika dipadukan dengan sambal teri dan lalapan. Lalu….”

“Huuuuuuu…. Elo mau perkenalan atau mau jadi pemandu wisata?” celetuk Ryan seorang cowok kurus dan jangkung. Tarikan platuk itu tidak dilewatkan begitu saja oleh yang lain. Hingga suasana jadi riuh, penuh tawa dan ejekan.

“Oke, sudah cukup Niel. Selanjutnya.” Pak Tomo menengahi.

“Nama gue Bulan Tungga Dewi.” Bulan berteriak lantang tanpa berdiri.

“Oke selanjutnya…” perkenalan tiga puluh lima siswa itu berjalan dengan berbagai celetukkan yang membuat suasana jadi riuh.

“Ini adalah hari pertama kita. Jadi Bapak tidak akan membuatnya berat atau penuh tekanan. Tidak apa-apa untuk kalian yang hari ini melanggar peraturan. Asalkan besok kalian kembali tertib. Bapak tidak akan memberi ampun kepada siapa pun yang berbuat onar di kelas Bapak.”

“Baik Paaaakkk…”

“Wali kelas kita asyik juga tuh.” Bulan kembali mengeluarkan peralatan cat kukunya setelah Pak Tomo pergi.

Kali ini desahan Aniel terdegar jelas. Mimpi apa dia semalam? Bisa terdampar duduk dengan kuntilanak jadi-jadian ini. “Kamu korban broken home ya?”

Bulan menghentikan aktifitasnya. Ia memalingkan muka dan memandang Aniel lekat-lekat. “Tau apa lo!”

“Biasanya orang kayak kamu itu korban broken home. Jadi bertindak dan bergaya aneh-aneh untuk menarik perhatian.”

“Sok tau!”

“Terus alesan kamu pakai rok mini apa? Mau pamer paha?” Aniel berkata sinis.

“Gue suka! Masalah buat lo?”

“Kejahatan itu terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya tapi juga karena ada KESEMPATAN jadi waspadalah! WASPADALAH!” Aniel menirukan gaya Bang Napi yang sering tampil di acara liputan kriminal televisi itu.

Bulan tertawa terpingkal-pingkal, “Dasar orang kampung!”

Kening Aniel berkerut dan menjadi kribo. Tidak mengerti pada jalan pikiran cewek kuntilanak ini.

☾☾☾☾☾

Sudah sebulan Aniel duduk dengan Bulan. Dan itu membuat Aniel harus beli catok buat ngelurusin keningnya yang kribonya sudah keseringan. Bahkan Anil juga beli kaca mata kuda untuk menghindari maksiat mata yang terus disuguhi paha mulus Bulan setiap hari.

Tidak ada kapoknya Bulan terus melakukan pelanggaran sekolah. Apa yang tidak diperbolehkan dia akan melakukannya. Seperti tetap memakai sepatu berwarna walaupun hampir setiap hari sepatunya disita oleh guru BP. Bolos ke kantin saat pelajaran sekolah. Sampai para guru ada yang di tandu ke ruang UKS karena darah tinggi memarahi Bulan dan pingsan dengan tengkurap di depan kelas.

Dimata anak-anak Bulan adalah pahlawan pemberani. Yang tidak takut dengan ancaman akan dikeluaran dari sekolah. Memang Bulan tidak melakukan pelanggaran yang berat. Tapi tetap saja dia melanggar peraturan sekolah.

Ada yang aneh. Mengapa Bulan tidak takut sedikit pun pada peraturan sekolah? Dia selalu santai dan easy going.

“Nanti ulangan kamu nggak belajar?”

Bulan hanya mengangkat bahu, ia sedang asyik bermain PSP.

“Terserah deh, yang jelas jangan berharap contekan sama aku.”

“Nyontek? Itu nggak ada dalam kamus gue!”

“Bagus!”

Dan benar saja Bulan tidak perlu contekan. Bahkan ia mengerjakan semua soal dengan lancar tanpa toleh kiri atau kanan. Aniel melirik sedikit kearah jawaban Bulan. Bukan untuk nyontek. Tapi untuk mastiin apa iya Bulan ngerjain soalnya tidak asal-asalan. Dan beberapa saat kemudian Aniel dibuat terbelalak. Jawaban Bulan hampir semuanya benar. Ternyata Bulan pintar. Atau mungkin dia genius!

☾☾☾☾☾

Hari ini Aniel pulang terlambat karena harus mengikuti seleksi ketua osis yang terdiri dari sepuluh kandidat. Nanti akan dipilih tiga besar untuk dijagokan menjadi ketua osis dan melakukan orasi.

“Mau bareng gue Niel?” Doni salah satu saingannya yang terpilih menjadi calon ketua osis merangkulnya dari belakang.

“Aku mau ke toilet dulu Don. Kamu duluan aja.”
“Oke!”

Tergesa Aniel berjalan ke toilet. Tapi saat melewati kantor kepala sekolah ia mendengar suara orang sedang berdebat. Aniel mengurungkan niatnya untuk ke toilet. Rasa penasarannya lebih besar. Kata orang jawa rasa penasaran itu kalau dibiarkan bisa jadi bisul.

“Sampai kapan kamu akan jadi anak pembangkang Bulan?” teriak suara berat kepala sekolah.

“Aku itu nggak suka diatur-atur Pa. Aku nggak mau jadi Akuntan. Aku mau jadi model. Aku pengen dikeluarin dari sekolah ini. Tolong pa! biarin aku jalanin apa yang aku pilih!”

“BRAKKKK!” Kepala sekolah menggebrak meja. Dadanya naik turun mengatur napas. “Kamu jadi model buat apa? Mamerin tubuh kamu?”

“Papa nggak ngerti. Sekarang aku tau kenapa Mama lebih milih ninggalin Papa. Karena Mama nggak mau dipenjara kayak aku sekarang!”

Mata Pak Dani berkaca-kaca, terlihat Ia berusaha keras mengatur emosinya. “Papa sayang sama kamu Bulan. Papa nggak mau kamu terlibat pergaulan bebas dan narkoba seperti mama kamu.” katanya tak sekeras tadi. tetapi samar-sama Aniel masih bisa mendengarnya.

“Apa?”

“Mama kamu direhabilitasi sekarang. Dia nggak ninggalin kita. Papa cuma nggak mau kamu tau. Dan Papa nggak ingin hal mengerikan itu terjadi ke kamu.”

Bulan terisak.

Diluar. Aniel juga terisak. Aniel merasa bersalah dengan kata-kata ketus dan prasangkanya pada Bulan selama ini. Jadi ini alasan rok mini Bulan.
———————-
Biasakan meninggalkan jejak setelah membaca :)
Xie xie

No comments:

Post a Comment

instagram