Tuesday, 13 November 2012

# Cerpen

Mimpi Kurcaci



Malam menunjukkan pukul sebelas, tetapi belum ada sepatah kata pun yang tergores dalam bukuku. Mengarang itu susah sekali. Tetapi mengapa aku memiliki cita-cita menjadi seorang penulis? Aku memang suka membaca novel, cerpen dan puisi. Tetapi untuk mengarang? Sepertiya bukan bidangku. Sama sekali tidak ada bakat.
Jenius adalah satu persen inspirasi, sembilan puluh sembilan persen perspirasi.” Aku menggumamkan tulisan yang tertempel di dinding kamarku. Salah satu quote dari Thomas Alfa Edison. Itulah yang selama ini menemani perjuanganku yang tak kunjung menampakkan hasil.
Aku membenamkan kepalaku pada kedua tanganku. Berharap ide menarik muncul. Sudah delapan kali aku mengirimkan cerpenku ke media cetak dan berbagai ajang perlombaan. Tapi tak satu pun dari mereka mendapat respon yang kuharapkan.

 
Untuk membuat cerpen aku harus menulisnya terlebih dahulu di buku, lalu aku akan ke warnet untuk mengetiknya. Maklum, aku adalah orang tak punya. Tak tega rasanya jika aku meminta sebuah netbook atau notebook kepada Bue. Walaupun sekarang ini banyak netbook yang harganya dibawah tiga juta. Untuk membiayai ketiga anaknya Bue bekerja sendiri. Karena Ayah sudah meninggalkan kami sejak aku berumur dua tahun. Bahkan sekarang bagaimana rupa ayahku pun aku tak ingat. Mungkin kalau kita bertemu dijalan. Aku tak mengenalinya begitupun sebaliknya. Ayahku asli orang Jakarta dan Bue asli orang Wonogiri.
Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, yang sedang menginjak kelas 2 SMA dan kedua kakakku bekerja sambil kuliah. Kakak pertamaku Erni kuliah jurusan Teknologi Informasi semester 7. Dan kakakku yang kedua kuliah jurusan ekonomi semester 4. Mereka kuliah di Sebuah universitas Swasta di Bekasi. Setelah lulus nanti, aku juga akan mengikuti jejak kedua kakakku. Kuliah sambil kerja. Tidak lagi merepotkan Bue untuk biaya kuliah.
ヅ ツ ッ.

“Tadi malam kamu begadang lagi?” tanya Vero, teman sebangkuku.
“Iya.” Jawabku lesu lalu duduk.
“Jangan terlalu banyak begadang Cit. Tidak baik buat kesehatanmu.” Vero memulai kuliah paginya. Setiap hari Vero selalu mengatakan hal yang sama.
“Apa kamu tidak bosan berbicara seperti itu setiap hari?” aku memasang muka sebal.
“Habis kamu setiap hari begadang. Masa tidur Cuma 2 sampai 3 jam. Kamu kan juga manusia Cit. bukan robot, dan lihat jari kamu sampai melepuh begitu gara-gara pegang pulpen terus.” Vero ikut-ikutan memasang muka sebal. Vero menghembuskan napas lalu memegang pundakku, “Sudahlah Cit. Lepasin aja mimpi gilamu itu. Kamu itu tidak ada bakat dalam dunia tulis menulis. Dari pada mengorbankan diri sia-sia, mending berhenti dari sekarang.”
Mendengar itu sekejap rasa kantukku hilang. “Kamu tau tidak berapa kali Thomas Alfa Edison mencoba untuk menemukan bola lampu? 9999 kali. Dan untunglah dia tdak berhenti mencoba. Bayangkan apa jadinya jika ia berhenti mencoba di percobaan yang ke 1998? Mungkin kita perlu menunggu beberapa puluh tahun lagi untu merasakan terangnya bola lampu.”  Kataku berapi- api.
“Tapi ini kasusnya beda Cit.” Vero bersikeras
“Apanya yang beda Ve? Ini sama. Aku harus terus mencoba sampai berhasil.”
“Lalu kapan akan berhasail? Kamu hanya akan melukai dirimu sendiri.”
“Aku yakin suatu saat nanti aku akan berhasil Ve, aku juga baru mencoba mengirimkan cerpenku delapan kali. Belum sebanding dengan apa yang dialami Thomas Alfa Edisson. Dan kamu tau? Bintang K-Pop kesayanganmu IU. Dia pernah ditolak 20 kali saat audisi girlband korea. Dan kamu lihat, sekarang dia berhasil. Orang yang berusaha itu tidak mungkin tidak menghasilkan apa pun. Karena Tuhan tidak pernah tidur.” Ceramahku panjang lebar.
Vera manggut-manggut, “Iya juga sih. Tapi kamu jangan terlalu memaksakan diri. Waktunya tidur ya tidur, bukan malah nulis cerpen. Dan cerpen kamu itu kan sudah ratusan. Kenapa semua tidak coba kamu kirimkan?”
“Kalau yang lainnya masih perlu perbaikan Ve. Nanti mau aku perbaiki lagi.”
Tak lama kemudian terdengar buny bel masuk. Tanda kegiatan belajar – mengajar akan segera dimulai.
“Kamu sudah bikin PR matematika?”
‘Bruk’ tasku terlepas dari tanganku.”Astaga. aku lupa Ve.” Kataku gugup dengan muka pucat. Menyadari apa yang akan ku hadapi nanti. Bu Santi, guru matematika sekaligus wali kelasku itu adalah guru ter-killer di sekolah ini. Aku harus mempersiapkan jantung, jiwa dan raga untuk menghadapi kemarahan Bu Santi di depan kelas dengan penggaris papan tulis yang super besar untuk mengagetkan murid yang dimarahi. Biasanya ia berteriak sambil memukulkan penggaris super besarnya ke papan tulis atau ke meja terdekat.
“Aduh! Cerpen terus sih yang kamu pikirin.” Vero ikutan panik. Sudah tidak ada waktu lagi untuk menyalin PR Vero. Karena Bu Santi sudah terlihat didepan pintu kelas. Seperti biasa sebelum benar-benar masuk ia mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Memastikan bahwa muridnya tidak ada yang absen. Setelah yakin semua muridnya terduduk manis dibangkunya masing-masing, tanpa keraguan Bu Santi mengayunkan kakinya memasuki kelas.
“Before we start the lession, Let’s pray together. Begin!” ketua kelas memimpin do’a, dan semua penghuni kelas menundukkan kepala memohon kelancaran dalam belajar. Tetapi khusus untukku, aku berdo’a agar terbebas dari omelan Bu Santi.
“Finish!” ketua kelas mengahiri do’a. dan tanpa disuruh ia mengumpulkan buku PR anak-anak lalu menyerahkan pada Bu Santi. Terlihat Bu Santi menghitung jumlah buku yang ada ditangannya. Menyadari ada anak didiknya yang tidak mengerjakan PR mukanya berubah masam.
“Siapa yang tidak mengerjakan PR?” tanya Bu Santi kemudian dengan suara lantang.
Aku menunduk dalam-dalam. Berharap tidak terlihat disaat kondisi genting seperti ini.
Bu Santi mengedarkan pandangannya keseluruh kelas dengan mata tajam. “Cita!” Panggilnya kemudian.
Dengan takut-takut. Aku mengangkat wajah. Aku memandang Vero mohon bantuan. Tetapi aku tau tidak ada yang bisa Vero lakukan.

ヅ ツ ッ.

Terik matahari begitu menyengat. Tak henti-hentinya peluh mengalir di pipiku. Dan kurasa baju seragam osisku pun telah basah oleh keringat. Sudah satu jam aku berdiri menghormat pada sang merah putih di lapangan sekolah. Karena terlalu sering  tidak mengerjakan PR, Bu Santi memberiku hukuman berbeda. Do’aku terkabul, tetapi dimarahi Ibu Santi lebih baik daripada aku harus harus berdiri dibawah terik matahari sampai pelajaran matematika berakhir dan itu artinya aku masih harus berpanas-panas ria satu jam lagi. Kakiku sudah gemetar. Pagi tadi aku belum sempat sarapan. Leher dan tanganku juga mulai pegal. Kupandang sekeliling, tidak ada orang. Aku menurunkan tanganku dan menundukkan kepala, mencoba mengusir rasa pegal yang hinggap.
“Cita!” seseorang mencolek bahuku dari belakang. Spontan aku kembali ke posisi semula. 
“Eh, ini aku.” Vero menyodorkan susu coklat kotak dingin.
Aku tersenyum dan mengambilnya. Vero memang paling tau kebiasaanku. Dialah teman yang tau segalanya tentangku. “Kenapa kamu bisa disini?” tanyaku heran. Karena pelajaran matematika belum berakhir.
“Tadi aku ijin ke toilet.” Kata Vero santai sambil memandangku dengan pandangan aneh.
“Kenapa?” tanyaku sambil menancapkan sedotan ke kotak susu dan meminumnya.
“Sampai kapan kamu seperti ini terus? Setiap hari lupa mengerjakan PR. Untung saja otakmu termasuk pintar. Jadi kalau ada ulangan mendadak tidak perlu kelabakan.” Kata Vero sewot.
“OK! ini memang salahku. Janji deh lain kali tidak akan lupa lagi.”
“Awas ya kalau kamu mempertaruhkan sekolah cuma demi mimpi gilamu itu.”
“Iya. Aku tau kalau sekolah itu juga penting. Bawel amat sih.” Kataku pura-pura manyun.
“Ya sudah. Aku balik ke kelas dulu.”
Aku mengangguk dan mengantar kepergian Vero dengan senyum termanisku. Beruntung sekali rasanya memiliki sahabat seperti Vero. Aku tau sebenarnya Vero mendukungku. Hanya saja dia tidak mau jika aku menghancurkan masa depanku sendiri. Terimakasih Vero. Aku janji, aku tidak akan gagal. Aku akan menghancurkan keraguanmu padaku. Dan aku juga akan membuktikannya padamu bahwa kekuatan mimpi itu sangat besar. Karena mimpi adalah gerbang menuju kebahagiaan. Berbagai kesulitan dan cobaan akan mewarnai setiap jalan menuju kebahagiaan. Seperti Agnes Monica bilang “Dream, Believe and Make it happen!” 

THE END

No comments:

Post a Comment

instagram