Friday, 3 August 2012

# Cerpen

Sweet Seventeen


“Hai guys, selamat pagi.” sapaku. Tetapi tak satupun dari mereka yang membalas sapaanku. Aku bingung, ada apa dengan teman-temanku hari ini.
“Hello! Pada kenapa sih?” teriakku penasaran. Kupandangi mereka satu per satu.
“ Eh, Lis. Apa kamu gak sadar kalau kamu sudah menyakiti Sella?” Hana angkat suara.
“Apa maksudmu? Aku nggak ngerti.”
“Kemarin kita berlima lihat kamu sama Choky berduaan di perpus” kali ini Deby yang bicara.
“Oh, soal itu? Aku sama Choky bukannya berduaan, tapi saat itu perpusnya emang lagi sepi. Aku juga lagi nyari buku buat tugas IPS minggu depan. Nah, karena kelas Choky udah pernah dikasih tugas itu. So, nggak salah kan kalau aku minta diajarin sama Choky?” jelasku panjang lebar.
“Apa kamu nggak tau kalau Sella suka sama Choky?” tanya Hana garang.
“Hah? Jadi kamu suka sama Choky Sel? Kalau gitu aku comblangin aja gimana?”
“Serius kamu Lis?” tanya Sella kegirangan.

 
“Yups…! Serahkan semua pada ahlinya.” Kataku sambil mengacungkan kedua jempolku dan tersenyum semanis mungkin. Lalu semua sahabatku memelukku. Sangat menyenangkan.
            Kami bersahabat sudah lama, sekitar 4 tahun lebih kami lewati dengan canda tawa dan air mata. Persahabatan kami ini sangat komplit sekali dan beranggotakan 6 orang. Kata orang angka 6 itu angka sial. Tapi bagi kami angka itu adalah angka keberuntungan yang telah menyatukan kami.
Ada diantara kami ada yang pinter banget. Bahkan bisa dibilang jenius, yaitu Sella. Tetapi untuk urusan bersosialisasi  Sella sedikit ketinggalan. Karena yang menarik baginya di dunia ini hanyalah buku. Ada juga yang suka dadan yaitu Hana, Deby,dan Rara. Kemana pun mereka pergi, alat make up tak pernah absen dari tas mereka. Tapi jangan salah! Walaupun mereka kecentilan dan keganjenan, mereka adalah anggota yang paling cantik diantara kami. Kalau diibaratkan bunga Hana adalah bunga sepatu. Bunga yang putih dan wangi, dan Deby adalah bunga mawar . bunga yang melambangkan kecantikan alam dan keberanian tetapi susah dipetik karena durinya yang begitu tajam. Lalu Rara adalah bunga menir. Bunga yang mirip dengan bunga melati tetapi lebih kecil. Bunga yang harum dan mungil.
Ada juga yang jago karate yaitu aku dan Gina. Karena jago karate kami dianggap bodyguard untuk kelompok persahabatan kami. Selain karate aku dan Gina juga menyukai bola, dan pemain favorit kami adalah Cristiano Ronaldo Dos Santos Aveiro yang lahir pada tanggal 5 Februari 1985. Pemain Real Madrid bernomor punggung 7 itu sangat seksi saat mandi keringat ketika mengejar bola di lapangan hijau. Selain itu Ronaldo juga punya wajah yang tampan. Sehingga kebanyakan penggemarnya berasal dari kaum hawa.
<3 <3 <3

Sekarang adalah saatnya untuk menjalankan tugasku sebagai makcomblang Sella. Semoga Choky juga suka sama Sella, jadi aku nggak lagi dianggap penghianat oleh teman-teman.
Aku berjalan menuju perpustakaan, karena biasanya Choky sering disana. Dan benar seperti dugaanku, Choky sedang duduk di bangku paling pojok seperti biasanya. Tetapi kali ini ia bersama Bobby. Sepertinya sedang membahas sesuatu yang menarik. Aku berpura-pura memilih buku ditempat paling dekat dengan Choky. Lalu menarik sebuah buku secara acak.
“Ehm.” aku berdehem dan berlagak serius membaca buku ditanganku. Padahal aku tak mengerti buku apa yang aku ambil.
“Lisa, tumben baca buku berat?” tanya Choky dengan nada mengejek. Sialan. Buku enteng kayak gini dibilang berat. Ya memang aku nggak suka baca, kecuali novel sama komik. Tapi jangan ngrendahin gini dong…! Lalu aku membaca judul buku yang kuambil. Psikologi sastra: Karya sastra, metode, teori, dan contoh kasus karya Albertine Minderop. Buku macam apa ini. Ok! Fokus! Aku harus sabar demi Sella.
“Aku lagi pengen baca aja. Kalau kamu lagi baca apa?” kupaksakan mimik wajahku seimut dan selembut mungkin lalu duduk didepan Choky.
“Eh, Chok. Aku pergi dulu ya?” kata Bobby tiba-tiba.
“Ok. Bro,jangan lupa rencana kita tadi ya?”
“Beres Boss…!!!” kata Bobby lalu pergi.
“Emang kalian buat rencana apa?” tanyaku penasaran.
“Mau tau aja.” Lagi-lagi senyum ejekan itu keluar. Huft…! Nyebelin bangat sih harus ngedeketin Choky. Siapa coba yang mau dekat-dekat dengan cowok dingin ini? Mungkin dinginnya kutub utara bisa dikalahin sama Choky.
“Eh, iya. Kamu lagi baca apa?” aku mengulang pertanyaanku untuk mencairkan suasana.
“Novel”
Hah? Cuma gitu doang? Irit banget sih ini cowok. “Oh, novel apa?”
“Penting ya?”
“iya. Kan jarang cowok suka novel. Biasanya para kaum adam tuh lebih suka komik. Bukannya novel itu terlalu cengeng?” aku pantang menyerah.
“Stupid.”
“Hah?” gila ya ini orang. Aduh, kalau bukan demi Sella. Pasti Choky udah aku mutilasi. Tapi mungkin aja aku emang bego. Kenapa juga harus kasih pertanyaan bodoh itu? Novel kan ada banyak jenisnya. Nggak melulu soal percintaanyang bikin cengeng.
“Choky?” dengan hati-hati aku memanggilnya. Tapi Choky nggak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari bukunya. “ kamu udah punya pacar?”
“Kenapa? Mau daftar?” tanyanya dengan senyuman ejekan itu lagi.
Oh, my gosh. Aku udah nggak sabar lagi. Kesabaranku telah melayang bersama senyum ejekannya itu. Lebih baik aku langsung pada intinya. “Ada temenku yang suka sama kamu.”
“Aku nggak peduli dan aku juga nggak mau tau siapa dia.” Kata Choky ketus.
“Apa masalahmu?” tanyaku semakin emosi.
“Udahlah. Jangn ganggu aku.”
Tanpa basa-basi lagi aku langsung pergi. Aku bingung dengan sikap Choky. Apa dia nggak bisa sedikit bersikap sopan dan manis pada perempuan? Aku heran, apa yang Sella suka dari cowok dingin itu?
“Gimana Lis?” tiba-tiba Sella dibelakangku. Aku menghela napas, berharap semua beban yang ku rasakan tadi ikut melayang bersama hembusan nafasku.
“Mungkin ini akan sulit. So, kasih aku waktu untuk menaklukan gunung esmu itu.”
“Jadi belum berhasil ya.” Kata Sella kecewa. Dan aku hanya bisa mengangguk lesu.
“Ok. Aku kasih waktu dua minggu ya? Gimana?”
“Ok. Semua ini akan selesai dalam waktu dua minggu.” Kataku penuh semangat. Lihat saja nanti. Gunung es akan dipatahkan oleh master karate.
<3 <3 <3
Dalam waktu satu minggu aku mencari informasi tentang Choky. Mulai dari ngikutin Choky setiap hari. Walaupun dia terus memasang cover super jutek, tapi aku tetap berusaha. Nggak ada kata menyerah dalam kamusku. Sampai-sampai aku mendekati semua teman dan keluarganya. Dari kerja kerasku itu aku bisa tau dimana Choky tinggal, tanggal lahirnya, tingginya, berat badannya, makanan dan tempat favoritnya, hobbynya, hal-hal tentang teman dan keluarganya, pokoknya semua tentang Choky. Bahkan sabun yang Choky pakai pun akau tau. Dan yang paling penting dan utama adalah Choky masih JOMBLO. Tentu saja Sella sangat puas dengan hasil kerjaku.
“Kamu memang THE BEST Lis.” Puji Sella.
“Wah, bakal ada mak comblang beneran nih diantara kita.” Gurau Gina.
“Iya. Makcomblang amatir.” Sambung Rara lalu semuanya tertawa.
“Eits…!!! Jangan sembarangan, aku ini makcomblang professioanal.” Kataku bangga.
“Eh, Lis. Itu Choky!” triak Gina tiba-tiba sambil menunjuk taman. Tanpa babibu lagi aku langsung lari ke taman. Dari kejauhan terlihat ada duka yang mendalam di wajah Choky. Ada apa dengannya? Aneh, saat melihat wajah murung itu ada sesuatu yang menyesakkan dadaku.
“Kenapa Chok?” tanyaku. Tapi Choky hanya diam. Dia seperti menerawang sesuatu yang sangat jauh.
“Choky!” teriakku sambil menepuk bahunya. Choky tidak terlihat kaget dan hanya tersenyum lesu. Aku belum pernah melihatnya seperti itu.
“Ada masalah?”
“Nggak ada” katanya lirih dan berusaha tersenyum, yang malah membuatnya terlihat aneh.
“Kamu nggak bisa membohongiku dengan wajah sejelek itu. Cerita dong! Mungkin aku bisa bantu.”
“Bener kamu mau bantu aku?” tanya Choky dengan suara serak. Aku mengangguk mantap. Aku tau sekarang bukan saatnya berbicara tentang Sella.
“Aku tunggu di taman kota nanti sore.” Kata Choky tanpa menatapku lalu pergi. Aku hanya bisa menyimpan kebingungan dihatiku. Kutatap punggung Choky hingga menghilang.
                                                                 <3 <3 <3

Sudah dua jam lebih aku menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda kalau Choky akan datang. Aku mulai gelisah sekaligus khawatir. Sudah berkali-kali aku menghubungi ponselnya tapi nggak ada jawaban. Berkali-kali juga aku kirim sms, dan lagi-lagi nggak ada respon. Sebenarnya apa maksudnya menyuruhku menunggu seperti ini? Aku sudah memutuskan, akan menunggunya sampai datang. Pasti Choky punya masalah serius. Kalau nggak mana mungkin mukanya sejelek tadi siang.
Tak lama kemudian terdengar suara motor berjalan ke arahku. Aku tau itu adalah Choky. Suara motornya sudah sangat familiar ditelingaku. Choky menghentikan Ninja merah empat tagnya tepat didepanku. Saat Choky membuka helm, peluhnya bercucuran.
“Maaf ya, aku terlambat.”
“Kirain lupa sama janjimu sendiri. Aku sudah menunggu 2 jam lebih tau. Sekarang kamu liat, udah hampir gelap.” Gerutuku kesal.
“Duh, galaknya. Aku kan udah minta maaf.” Kata Choky sambil memberikan sekaleng softdrink.
“Kamu dari mana saja?”
“Maaf, tadi aku ketiduran.” Kata Choky santai. Aku semakin jengkel dengan sikap Choky yang nggak merasa bersalah sama sekali.
“Apa? Ketiduran? Aku hampir kering disini dan kamu ketiduran? Oh, my gosh. Mimpi apa aku semalem?” gerutuku lalu meminum habis softdrink ditanganku, dan kugenggam kuat-kuat hingga kaleng softdrink ditanganku tak berbentuk lagi.
“Wow… mengerikan.” Choky pura-pura takut.
“Dasar…! Nggak punya perasaan.”
“Kamu mau bantuin aku atau nggak?” tiba-tiba suara Choky terdengar serak seperti tadi siang.
“Ada masalah apa?” tanyaku iba sekaligus penasaran.
“Kemarin ayah dan ibuku bercerai.” Katanya lirih.
“Aku turut prihatin. Aku tau perasaanmu. Memang ayah dan ibuku belum bercerai. Tapi mereka sudah pisah rumah sejak aku berumur 5 tahun, dan itu lebih menyakitkan.” Aku jadi teringat kedua orang tuaku. Tak terasa cairan hangat membasahi pipiku. Lalu beberapa detik kemudian kurasakan tubuhku hangat. Choky memelukku. Rasanya begitu nyaman.
“Maaf ya Lis, aku jadi mengingatkan kamu sama orang tuamu.” Choky semakin mempererat pelukannya. “Sekarang aku menjadi barang rebutan bagi mereka. Mereka memperebutkan aku tanpa memperduikan Kak Vera. Aku lelah dengan semua ini. Kak Vera juga sangat membenciku.” Kata Choky geram.
“Kenapa orang tuamu hanya memperebutkanmu?” tanyaku penasaran.
“Karena mereka menginginkan anak laki-laki untuk meneruskan bisnis mereka. Sekarang aku nggak pernah melihat Kak Vera tersenyum padaku. Padahal dulu dia adalah orang yang paling mengerti dan menyayangiku.” Jelas Choky dengan suara semakin serak. Mendengar itu dadaku merasa sesak. Seakan aku bisa merasakan apa yang Choky rasakan.
“Kamu harus kuat Chok. Hidup memang tak semua berjalan seperti yang kita inginkan.” Kataku sambil melepas pelukan Choky dan menatap matanya. “SEMANGAT….!!!!!!” Kataku penuh semangat. Choky balas menatapku dan kurasakan dadaku berdebar.
“Aku akan membantumu.” Kata itu begitu saja meluncur dari mulutku.
“Dengan cara apa?” wajah Choky semakin dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya diwajahku.
“A….aku…” aku sedikit bingung apa yang akan ku katakan. “ aku akan mendukungmu dan selalu disisimu sampai kamu bisa melewati masalahmu.” Lanjutku agak gemetar karena hidung Chooky hampir menyentuh hidungku.
“Makasih Lis. Tapi aku ingin kamu terus disisiku meski aku bisa melewati semua ini.” Kata Choky tersenyum nakal dan menjauhkan wajahnya dariku. Aku sangat terkejut mendengarnya. Apa ini berarti Choky ingin aku menjadi pacarnya? Huss….!!! Jangan berpikir macam-macam Lisa. Ingat.! Kamu melakukan ini untuk Sella.
“Woi…!!! Kamu kenapa Lis? Kok begong?” triak Choky di depan mukaku.
“Eh, nggak papa kok.” Jawabku dengan muka blo’on.
“Ya udah, pulang yuk.! Nanti kamu dicariin Mama kamu. Ini sudah jam 7. Aku nggak mau kalau kamu kena marah.” Choky menarik tanganku.
“Tunggu.” Triakku tanpa sadar. Choky menghentikan langkahnya dan menoleh padaku. Aku bingung ingin mulai dari mana. Sementara Choky terus memandangiku, berharap aku berbicara sesuatu.
“Eh, anu. Apa maksudmu tadi?” tanyaku gugup.
“Apa?”
“Itu yang tadi, kamu bilang kalau kamu ingin aku terus disisimu. Maksudnya apa?” tanyaku hati-hati. Tapi choky malah tertawa. Sepertinya semua beban yang kulihat tadi sudah hilang. Dan dalam sekejap bibir Choky menempel dibibirku. Terasa hangat dan agak basah. Butuh waktu 10 detik untuk menyadari apa yang terjadi. Dengan cepat aku melangkah mundur. Choky tersenyum dan menarik tangan kananku untuk mengikuti langakahnya.
“Naik! Ayo kita pulang.” Kata Choky santai sambil menyerahkan helm padaku. Gila! Arogan sekali orang ini. Main cium bibir orang seenaknya. Apa kamu tau Chok? Tadi adalah ciuman pertamaku. Dan kamu telah mengambilnya.
<3 <3 <3

Aduh. Kenapa aku terus memikirkan Choky? Apa aku suka sama dia? Ah, nggak mungkin. Sella, sahabat kamu itu suka sama Choky. So, ini nggak boleh terjadi. Oh, iya sekarang Choky lagi sedih. Jadi ini adalah peluang emas buat Sella.
Aku berjalan ke tempat telepon rumahku diletakkan, dan memencet nomor ponsel Sella. Kudengar nada sambung rindu setengah mati dari D’Masiv. Lalu terdengar suara cempreng Sella. Ia terdengar gembira sekali. Tanpa basa-basi aku langsung menceritakan rencanaku untuk mendekatkannya dengan Choky.
Kuharap semua berjalan sesuai rencana jadi aku bisa terbebas dari tugas yang menyebalkan ini.
<3 <3 <3

Aku berangkat sekolah dengan kelima sahabatku. Hari ini mereka sangat cerewet. Sedangkan aku, rasanya berat sekali untuk membuka mulut. Semuanya membosankan. Ugh, akhirnya sampai juga di sekolah. Aku melihat Choky berjalan menuju taman sekolah dengan wajah murung. Ingin sekali aku kesana dan menghiburnya. Nggak. Ini adalah kesempatan Sella untuk mendekati Choky.
“Sel, itu Choky. Samperin sana.” Aku menunjuk tempat Choky berada. Dan Sella terlihat girang sekali, lalu berlari mengampiri Choky tanpa pamit. Aku hanya bisa memandang punggung Sella dengan perih. Entah kenapa rasa ini menghinggapiku.
“Hebat juga kamu Lis.” Puji Hana. Aku tersenyum kecut mendengarnya. Apa benar ini yang aku inginkan? Kamu ini mikirin apa sih Lis? Sella kan sahabat kamu yang suka sama Choky. Nggak mungkin kan aku menghianati sahabatku. Aku menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Sudahlah. Untuk apa aku memikirkan hal seperti ini.
Gina menjitak kepalaku, “Kamu kenapa sih? Dari tadi diajak ngomong diem aja.”
“Nggak apa-apa kok.” Kataku lesu lalu mendahului mereka pergi ke kelas. Dalam perjalanan aku melihat Sella menangis. Dan kulihat Choky masih duduk di bangku taman.
Aku duduk disamping Choky, “Kenapa?”
“Apa?”
“Kamu kenapa?” aku mengulang pertanyaanku.
“Aku males Lis lama-lama dirumah. Tepatnya nggak betah, rumahku sekarang sepi banget.” Choky tertunduk lesu.
“Gimana kalau pulang sekolah nanti jalan sama temenku. Biar kamu sedikit terhibur. Dia orangnya cantik, pinter, dan selalu jadi langganan juara kelas. Dia juga suka banget sama novel, seperti kamu. Terus….”
Choky menaruh telunjuk tangan kanannya dibibirku, “Aku pngennya jalan sama kamu.”
Oh, God! Itu membuatku terkejut. Sampai-sampai aku tak mampu berkata-kata. Dengan sabar Choky menunggu jawabanku. Kali ini wajahnya sangat serius. Nggak ada lagi senyum ejekan seperti biasanya.
“Ke…kenapa aku?” tanyaku gugup.
“Karena aku suka kamu Lis, aku cinta sama kamu. Bukan temen kamu atau orang lain.” Choky menatap mataku tanpa berkedip dan menggenggam erat kedua tanganku. Untuk kesekian kali aku hanya diam dan tak bisa menguasai diriku. Aku senang sekaligus bingung mau ngomong apa. Apa aku harus bilang kalau aku juga suka dan sayang sama Choky? Tapi bagaimana dengan Sella? Apa aku tega menusuknya? Apa aku sanggup?
“Kamu juga suka kan sama aku? Aku bisa lihat itu dari mata kamu. Kamu nggak bisa membohongiku Lis.” Lanjut Choky tanpa mengalihkan pandangan matanya dari mataku.
Aku melepaskan tangan Choky dan menghindari tatapan Choky, “Kamu salah…! Aku nggak suka sama kamu. Sebenarnya selama ini aku mendekatimu karena Sella. Dia sahabatku yang suka sama kamu. Jadi kamu jangan salah paham.” Aku berbicara sangat lancar. Sudah seharusnya aku mngatakan ini. Choky, maafkan aku. Tapi aku heran dengan reaksi Choky yang cengar-cengir. Sepertinya dia senang mendengar jawbanku. Apa dia hanya mempermainkan aku? Sialan.
“Apa yang kamu tertawakan?” tanyaku geram. Air mataku sudah mendesak ingin keluar, wajahku terasa panas, dan dadaku rasanya sesak. Tetapi Choky terus tertawa.
Belum sempat Choky menjawab terdengar bunyi bel tanda masuk kelas. Choky berdiri dan berjalan mundur sambil cengengesan. Lalu dia mengedipakan mata kirinya dan berlari menuju kelasnya. Aku menarik napas panjang untuk mengilangkan sesak didada.
“Apa aku ini barang mainanmu?” gerutuku kesal sambil berjalan ke kelasku. Sesampainya dikelas aku melihat Deby dan Rara asyik dengan bukunya.
“Kemana saja Non?” tanya Rara. Belum sempat aku menjawab Bu Mei guru matematikaku sudah datang.
“Ok. Anak-anak hari ini kita ulangan. Tapi sebelumnya kita berdo’a dulu.” Kata Bu Mei tenang. Nggak ada yang protes untuk ulangan kali ini, karena Bu Mei sudah memberi tahu seminggu yang lalu.
Semuanya menundukkan kepala, memohon kepada Sang Pencipta agar mendapatkan nilai yang memuaskan. Selesai berdo’a Bu Mei membacakan soal ulangan. Soal yang diberikan nggak terlalu sulit, berkat usahaku begadang semalaman untuk belajar.
Tiba-tiba ponsel disaku rok abu-abuku  bergetar. Dengan sangat hati-hati aku membukanya agar nggak ketahuan Bu Mei. Terpampang satu pesan masuk dilayarnya.  

From: Choky
Pulang sekolah ak tunggu
@halte y? ak tunggu smpai
Km datang. Ok?!

<3 <3 <3

Saat bel berbunyi menandai berakhirnya pelajaran, aku bergegas memasukkan bukuku ke dalam tas dan segera pergi. Kulangkahkan kakiku panjang-panjang agar cepat sampai.
“Lisa.” Sella menghampiriku.
“Apa Sel?”
“Kamu bisa temenin aku ke toko buku nggak? Soalnya tadi ada tugas biologi dari Bu Tina.”
“Sorry Sel, aku ada acara keluarga dirumah. Kamu minta temenin Rara atau Gina aja. Sepertinya mereka hari ini nganggur.” Ups! Kenapa sekarang aku pintar berbohong? Ah, masa bodoh. Pasti Choky sudah menungguku.
“Yah, padahal aku pngen kamu yang nemenin. Sekalian curhat maksudnya.”
“Besok aja ya Sel? Sorry banget aku lagi buru-buru. Pai-pai…” kataku cepat lalu menjauhi Sella dengan setengah berlari.
Ternyata benar dugaanku Choky sudah menungguku. “Woi…! Gila ya kamu. Ngapain minta ketemu di halte? Kenapa nggak diparkiran? Kan lebih deket. Terus aku juga nggak perlu capek seperti ini.”
“Udah, duduk dulu sana.” Tanpa diperintah dua kali aku langsung duduk, karena memang kakiku rasanya pegal sekali habis lari-lari tadi.
Choky mengulurkan sebotol air mineral kepadaku, “minum. Pasti haus kan?” aku nggak perlu menjawab pertanyaan retorisnya itu. Tak lama kemudian tenggorokanku terasa basah dan segar.
“Thanks.” Kataku setelah menghabiskan air mineral itu dalam sekali teguk.
“Rakus juga kamu. Cewek tapi minumnya kuat banget.” Choky memandangku heran. Aku hanya bisa nyengir kuda mendengarnya. Sepertinya imageku didepan Choky telah hancur. Bagaimana aku bisa lupa kalau aku sedang bersama Choky????
“Ada apa sih kamu ajak aku kesini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Choky nggak jawab pertanyaanku dan menarik tanganku masuk ke dalam mobilnya. Sebenarnya ada apa ini? Hari ini Choky aneh banget.
“Tumben nggak bawa motor kesayangan kamu itu?” tanyaku memecah kesunyian. Tapi lagi-lagi Choky hanya membisu. Choky hanya tersenyum, seperti menyembunyikan sesuatu. Setelah itu aku nggak berkata-kata lagi. Selama perjalanan aku terus memandang ke depan tanpa memandang Choky. Sementara itu dengan santai melajukan Honda Jazznya Choky membelah jalanan wonogiri ini yang sepi. Lalu Choky mengehentikan mobilnya didepan rumah makan ayam panggang. Diatas warung itu tertulis ‘Ayam Panggang Mbok Tiyem’. Ini adalah tempat makan favoritku. Tapi ada yang aneh, karena warung ini begitu sepi. Padahal biasanya sangat ramai.
“Ayo masuk!” Choky membukakan pintu mobilnya untukku. Aku hanya bisa pasrah saat Choky menarik tanganku memasuki warung makan itu.
Choky menarik kursi dari salah satu sisi meja, “Silahkan duduk my princess.”
“Thank you my prince.” Ups. Aku membungkam mulutku. Aku keceplosan. Bagaimana ini?
Choky duduk didepanku dengan wajah berseri.
“Kenapa sepi sekali?” aku nggak bisa menutupi rasa penasaranku. Dan lagi-lagi yang kudapatkan hanyalah senyuman dari Choky.
“Aku ke belakang dulu ya Lis.” Kata Choky lalu pergi.
Tiba-tiba Sella, Hana, Deby, Rara dan Gina berjalan memasuki rumah makan mbok tiyem ini. Aku mulai panik. Bisa mati aku kalau mereka tau aku jalan sama Choky. Aku menutupi wajahku dengan daftar menu yang ada di meja. Aku terlonjak kaget saat ada orang yang menepuk bahuku.
“Hai Lis, lagi ngapain disini? Katanya ada acara keluarga?” tanya Sella. Aku bingung harus menjawab apa. Wajahku mulai terasa panas. Pasti sekarang wajahku merah banget. Aku sangat menyedihkan seperti anak kecil yang ketahuan bohong sama mamanya. Huft! Sangat memalukan.
“Eh, aku….ak…aku laper. Jadi mampir dulu kesini.” Badanku mulai gemetar.
“Katanya tadi kamu buru-buru? Gimana sih?” damprat Sella dengan muka jutek. Belum sempat aku menjawab Mama, Papa dan semua teman-temanku sudah ada disampingku. Ada apa ini? Aku seperti orang bodoh yang tak mampu berkata-kata.
“Lisa? Kenapa pulang sekolah nggak langsung pulang?” bentak Mama. Apa lagi ini? Aku belum pernah melihat Mama semarah ini. Jangankan bentak, melotot aja Mama nggak pernah. Biasanya Mama selalu mendukungku dan percaya apa yang aku lakukan adalah hal yang baik. Nggak melenceng dari ajaran agama dan norma-norma sosial.
“Happy Birthday Lisa…. Happy Birthday Lisa… Happy Birthday… Happy Birthdaaayyy…. Happy birthdaaaaaayyyy Liiiiisaaaaaaa…..!!!” Choky muncul dengan kue tart ditangannya dan yang lain mrnyambung tanpa dikomando.
Bagimana aku bisa lupa? Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-17. Aku menghambur ke pelukan Mama dan menumpahkan seluruh air mataku disana. Pantas saja Papa dan Mama hari ini terlihat akur. Ternyata semua ini demi aku.
“THIS IS A GREAT PARTY.” Teriakku dengan suara sekeras mungkin dan masih dengan tangis yang sulit ku hentikan. Sebelum acara tiup lilin Papa memimpin do’a untuk mendo’akan aku.
“Eits! Make a wish dulu dong…!” Kata Choky mengagetkanku, saat aku memonyongkan bibir untuk meniup lilin. Aku tersenyum dan memejamkan mata.
‘Semoga tahun ini semua orang yang aku sayangi bahagia dan aku mendapatkan pacar untuk mmewarnai hari-hariku. Amin.” Dengan penuh semangat aku mmeniup lilin didepanku, dan semua orang bertepuk tangan riuh. Potongan kue pertama dan kedua aku berikan kepada orang yang paling berjasa dalam hidupku selama ini. Yaitu Mama dan Papa.
Choky mendekatiku dan memegang kedua tanganku. Aku terkejut dengan apa yang dilakukan Choky. Apa lagi sekarang ada Sella. Aku nggak akan pernah tega menyakiti sahabatku sendiri.
“Lis selama ini aku suka sama kamu, sudah 3 tahun aku memendam semua ini. Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu saat pendaftaran sekolah dulu.” Tiba-tiba Choky berlutut.
“Apa kamu mau jadi wanitaku?” kata Choky mantap.
Aku perlu waktu beberapa detik untuk menguasai diriku lagi. Lalu aku memandang Sella dan kelima temanku yang lain. Anehnya mereka semua tersenyum bahagia.
“Terima aja Lis. Selama ini aku hanya pura-pura menyukai Choky.  Dia yang meminta bantuanku untuk mencari tau, apakah kamu punya perasaan yang sama dengannya.”
“Terima Choky Lis.” Tiba-tiba Bobby yang bicara. “Choky beneran suka sama kamu. Dia yang meminta bantuanku untuk mengosongkan rumah makan Ibuku untuk acara ini.”
“Terima Choky Lis.” Triak Rara ngotot dan yang lain juga ikut berteriak.
“Tapi kalian semu salah. Aku nggak suka sama Choky.” Aku berteriak geram dan melepaskan tangan Choky dengan paksa. Ini adalah pelajaran bagi kalian semua karena telah tega berkomplot membohongiku.
Suasana mendadak sunyi, dan wajah Choky terlihat pucat. Pipiku juga mulai basah dengan air mata lagi. Cengeng sekali.  Aku mengambil nafas dalam dan menghembuskannya.
Aku menatap mata Choky, “Maksudku, aku nggak cuma suka sama kamu. Tapi aku cinta sama kamu.” Semua orang bersorak dan Choky memelukku. Lega rasanya setelah mengatakan apa yang selama ini aku pendam sendiri. Air mata ini adalah air mata bahagia atas pemberianMu Tuhan. Terimakasih. Kau telah mengabulkan do’aku. Ini adalah sweet seventeen terindah yang pernah kurasakan.


THE END

No comments:

Post a Comment

instagram