Sunday, 29 April 2018

KONEKSI

22:35 41 Comments

Suara gelas dan sendok beradu nyaring. Senyaring burung yang berkicau di luar sana. Jam di dinding menunjukkan pukul enam. Meta sedang menyiapan sarapan untuk Jonathan. Adik semata wayang dan satu-satunya keluarganya. Sarapan favorit Jo adalah segelas cokelat panas dan roti bakar.
“Jo! Sarapan dulu yuk!” Meta berteriak sambil mengoles selai kacang di roti Jo. Tidak terdengar sahutan. “JO!” Meta kembali berteriak.
“Ini kan hari minggu Kak.” Jo menuruni tangga masih mengenakan baju tidur.
“Lho… Salahnya apa bangun pagi di hari minggu?”
Jo menyesap cokelat panasnya, “Hemmm… nggak ada salahnya Kak, soalnya ini enak banget.” Jo tersenyum lebar.
Meta tersenyum melihat kelakuan adiknya. Cokelat panas selalu bisa mengalahkan segalanya. “Hari ini ada acara?”
Jo mengangguk, mulutnya masih penuh dengan roti.
“Dasar rakus!” Meta mengacak rambut kusut adiknya. “Oh, astaga. Kamu masih bau air liur. Ganteng-ganteng kok ngiler.” Meta pura-pura memencet hidungnya dan menggibas-gibaskan tangannya di depan wajahnya.
Jo nyengir kuda, lalu dengan cuek tetap melanjutkan mengunyah roti bakarnya.
“Jadi hari ini ada acara kemana? Ngerjain tugas kampus?” Meta mengembalikan pembicaraan ke topik awal.
“Tugas kuliah udah selesai.” Jawab Jo setelah menelan kunyahan terakhir rotinya. Lalu ia memasang ekspresi dramatis, “Come on Sist! Aku ini bukan anak kecil lagi yang perlu Kakak interogasi dan aku termasuk cowok populer di kampus. Aku mau jalan sama cewek cantik.”
Meta terkekeh. Jo memang bukan anak kecil lagi. Adiknya itu sudah mulai jatuh cinta ternyata. Baguslah. Selama ini Meta khawatir terhadap Jo. Dari dulu belum pernah sekalipun Meta mendengar adiknya tertarik dengan kaum hawa. Bukan. Meta bukan khawatir kalau Jo homo. Tetapi Meta khawatir, jika Jo tidak bisa menikmati masa remajanya seperti kebanyakan remaja yang lainnya.
Jo terlalu serius dan fokus pada studinya. Dulu, untuk mendapat beasiswa di kampus favoritnya. Anak itu tidak punya waktu bergaul dengan teman-temannya. Dihidupnya hanya ada belajar, belajar, dan belajar. Sekarang pun setelah berhasil mendapatkan keinginannya untuk masuk universitas yang cukup terkenal di Asia itu Jo harus lebih giat belajar dan berkutat pada tugas yang bejibun. Jo tidak bisa main-main, sebagai penerima beasiswa Jo dituntut untuk mendapat nilai yang harus di atas rata-rata. Kalau tidak beasiswanya akan dihentikan.
Terkadang Meta merasa bersalah atas keadaan Jo. Meta adalah penyebab Jo menderita, ia tidak mampu membiayai kuliah Jo. Sebagai pengganti orang tua mereka, Meta tidak mampu melaksanakan amanat Mama dulu sebelum beliau direnggut paksa oleh penyakit diabetes. Sedangkan Papa meninggal karena menjadi salah satu penumpang maskapai yang mengalami kecelakaan saat Meta berumur lima tahun dan Jo berumur dua tahun. Bahkan sampai sekarang jasad papa belum ditemukan.
“Kak.” Jo menyentuh tangan kakaknya. Menyadarkan Meta dari lamunan. “Lagi mikirin apa?”
Meta tersenyum menepis kesedihannya, “nggak papa. Kakak seneng akhirnya kamu punya cewek. Kapan dikenalin ke Kakak?”
Jo memutar bola matanya. “Mungkin nggak sekarang. Kakak kerja kan?”
Meta menepuk keningnya, kebiasaan yang selalu dilakukannya saat ia lupa. “Astaga. Kakak lupa.” Meta melirik jam tangannya. Pukul 7. Meta terbelalak. 
Secepat kilat ia menyambar tasnya dan kunci motornya. Lalu berteriak sambil berlari ke pintu “Kakak berangkat dulu Jo.” Karena tidak hati-hati kaki kiri Meta tersandung sepatunya sendiri. Tapi buru-buru Meta menyeimbangkan tubuhnya sehingga tubuhnya tidak sempat terpelanting ke lantai.
Jo terkekeh melihat kejadian barusan, “Dasar ceroboh.”
****
Meta sampai di tempat kerjanya tepat waktu. Untung saja. Jika tidak, Meta akan mendapat masalah besar. Sang Team Manager atau biasa dipanggil TM adalah orang yang berdisiplin tinggi.
Meta terseyum bersemangat saat dari kejauhan terlihat ada seorang Ibu  yang berjalan ke arahnya. “Selamat siang Ibu, maaf mengganggu Ibu sebentar. Saya mau menawarkan…”
“Maaf saya nggak minat.” Ibu itu berkata ketus memotong perkataan Meta lalu berlalu begitu saja.
“Semoga hari Ibu menyenangkan.” Meta berkata berusaha ceria.
“Saya sedang terburu-buru.”
“Saya sedang tidak lapar.”
“Saya tidak punya waktu.”
“Saya tidak punya uang.”
Dan begitu seterusnya. Kata-kata  yang sama terus di ulang-ulang oleh orang yang Meta hentikan. Meta menyeka peluh yang mulai turun dari keningnya padahal ia ada di ruangan mall yang berAC. Mulutnya mulai berbusa. Hatinya capek terus diremehkan. Apa salahnya jika mereka mendengarkan terlebih dahulu? Atau paling tidak mereka menolak dengan nada yang sopan. Meta kan juga manusia yang mempunyai perasaan. Hanya satu dua orang yang berkata sopan. Dan ada beberapa orang yang tertarik mencoba masuk ke restoran seafood yang baru buka sejak seminggu yang lalu itu.
Meta duduk di depan restoran tempatnya bekerja. Memijat kedua pipinya yang terasa pegal karena seharian tidak berhenti bicara. Lalu ia tersenyum mengingat adiknya. Apakah kencan Jo hari ini menyenangkan? Meta mengeluarkan ponsel dari sakunya. Lalu memencet lama angka satu di sana. Tak lama nada sambung yang membosankan terdengar.
“Ya Kak?” terdengar suara Jo di seberang sana. Adiknya memang tidak menyukai basa-basi.
“Gimana kencan kamu?”
“Keren.” Lalu terdengar suara seorang perempuan memanggilnya. “Maaf Kak, aku nggak bisa lama-lama.” Lalu telepon terputus.
Adiknya memang sedang bersenang-senang. Meta tersenyum lebar tapi dengan mata berkaca-kaca. Terharu. Akhirnya Jo bisa merasakan kebahagiaan seperti teman-temannya. Meta menghapus air matanya yang menetes lalu berjalan ke ruang ganti. Pekerjaannya hari ini memang tidak berjalan baik tapi setidaknya adiknya mengalami hal baik di sana.
****
“Aku pulang.” Meta berteriak saat memasuki rumah. Keadaan masih gelap. Pertanda tidak ada orang di rumah. Meta menghidupkan lampu satu per satu lalu berjalan ke kamar adiknya. Sudah lama ia tidak ke sana. Sejak Jo masuk kuliah, Meta tidak diperbolehkan lagi masuk ke kamarnya sembarangan. Dan sekarang ia merasa rindu.
“Maaf ya adik kecilku.” Meta terkekeh saat sudah berada di dalam kamar beraroma maskulin itu. Kamar yang seperti perpustakaan mini. Banyak sekali buku-buku tebal menempel di rak yang ditempel di dinding. Buku-buku itu kebanyakan buku tentang IT, sesuai jurusan adiknya.
Meta membuka beberapa buku yang ada di meja belajar Jo. Ada beberapa brosur Pizza yang cukup terkenal di sana. “Apa Jo sedang pengin makan pizza? Besok aku akan membelikan untuknya.” Meta memilih salah satu buku lalu berbaring di ranjang Jo. Ah, ada yang mengganjal di punggungnya. Meta mengulurkan tangannya ke balik punggungnya. Sebuah name tag Pizza di brosur tadi. Dan nama yang tertulis di sana membuat Meta mengernyit. Jonathan.
Di depan terdengar suara motor berhenti. Itu pasti Jo. Terburu-buru Meta keluar dari kamar Jo dengan name tag itu digenggamannya.
“Gimana kencan kamu?” Meta mengulurkan cokelat panas pada Jo setelah adiknya itu mandi. Mereka sedang mengobrol di gazebo dengan buku tebal di tangan Jo.
“Bukannya tadi kakak udah tanya?” Jo meniup cokelat panasnya yang mengepul. Ia terlihat agak lelah.
“Kamu nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari kakak kan?”
Raut wajah Jo berubah kaget. “Kakak tadi masuk ke kamarku kan?”
Kali ini Meta yang kaget. “Dari mana kamu tahu?”
“Ada beberapa bukuku yang berubah tempat.”
Ah, iya. Meta lupa jika adiknya itu memiliki ingatan yang menakjubkan. “Ya. Dan kakak menemukan ini.” Meta mengacungkan name tag Jo di depan wajahnya. “Kenapa kamu kerja Jo? Dan apa bener hari ini kamu kencan? Bukannya bekerja?”
Tidak ada gunanya membohongi kakaknya lagi. “Aku kerja.”
“Jo! Kakak masih bisa menghidupi kita. Kakak nggak mau kamu kerja. Kakak pengen kamu seperti remaja lainnya. Kamu harus bergaul Jo. Kamu harus bersenang-senang. Kamu nggak boleh kerja!" Napas Meta tersengal. Matanya terasa panas.
“Kapan kakak akan melanjutkan kuliah?”
“Apa maksud kamu? Jadwal kuliah kakak itu bentrok dengan jadwal kerja kakak.”
“Kerja kakak yang macam-macam itu?” Nada suara Jo menajam. Tatapan matanya menghujam mata hitam Meta.
“Ini demi kita Jo!” Meta berteriak.
“Demi kita atau demi aku?” Jo balas berteriak. Tangannya bergetar menahan emosi, membuat cokelat panas yang dipegangnya tumpah ke tangannya.
Meta mengambil cangkir itu, meletakkannya di atas meja lalu mengelap tangan Jo dengan kaus yang dikenakannya. Meta meniupnya panik. “Kamu nggak papa kan Jo?” Tangan berkulit putih Jo Kini mulai memerah. “Ayo!” Meta menarik Jo ke wastafel dan mengalirkan air pada luka bakarnya.
Terdengar suara terisak. Meta memandang wajah Jo yang telah berlinang air mata melalui cermin. “Sakit ya? Tahan sebentar.” Meta terus memegangi tangan Jo dibawah aliran air wastafel.
“Bodoh!” Jo merengkuh Meta dalam pelukannya. Erat.
“Jo!” Meta berusaha mengurai pelukan itu.
“DIAM! Aku nggak tahan lihat kakak kerja pontang panting dan mengabaikan kuliah kakak demi aku. Aku nggak tahan lihat kakak terus diremehkan dan dihina orang lain demi rupiah. Aku nggak tahan lihat kakak berusaha tegar padahal kakak merasa hancur saat meninggalkan kuliah kakak. Dan aku bukan anak kecil lagi Kak. Aku udah dewasa. Aku hanya ingin membantu meringankan beban Kakak. Bukan hanya Kakak yang bertugas menjaga aku. Tapi aku juga wajib menjaga Kakak.”
Tubuh Meta menegang. Tak menyakangka adik kecilnya akan berkata seperti itu. Kini matanya sudah terasa panas.
“Aku bahagia Kak. Kakak salah kalau mengira aku nggak bahagia saat fokus dengan buku-bukuku. Aku lebih bahagia dari pada jalan dengan teman-teman. Jadi kakak nggak usah punya pikiran yang nggak-nggak soal kebahagiaanku. Kebahagiaan itu ketika kita melihat orang yang kita sayangi juga bahagia.
Jo memegang kedua bahu kakaknya dan mendorongnya menjauh agar ia bisa menatap matanya. “Aku udah lama kerja Kak, dan hari ini aku resmi naik pangkat. Jadi mulai sekarang, kakak nggak usah khawatir lagi dengan keungan kita. Dan aku pengen kakak kuliah lagi.”
Meta menutup mulutnya dengan kedua tangannya meredam isakkan yang semakin hebat.
“Sekarang giliran aku yang akan membahagiakan kakak. Kita harus bahagia sama-sama.”



  







Saturday, 24 March 2018

Resep Ceker Bledek Daun Kemangi

14:06 1 Comments

Weekend kali ini aku mau nyoba resep yang dikasih kakak tertuaku. Salah satu resep andalan yang digemari anggota keluarganya, dan aku juga suka kalap kalau dia masak ini. Rasanya yang pedas, gurih, dan ada kesan segar dengan aroma daun kemanginya. Pokoknya bikin nagih. Sangat nggak bagus buat yang sedang program diet. Hehe

Kenapa ceker ini disebut ceker bledek? Mungkin karena saking pedasnya hingga bikin kaget lidah kayak bledek atau petir yang menyambar. Semakin banyak cabai rawit yang dipakai semakin nikmat jika kamu suka pedas. Mungkin artinya sama dengan ceker mercon, ceker pedas atau ceker setan kali ya, sama-sama pedas dan bikin nagih.

Tak perlu panjang lebar lagi, berikut resepnya:

Bahan:
-         Ceker ayam 1/2kg
-          Daun salam 6 lembar
-          Daun kemangi secukupnya
-          Jahe 4cm, potong jadi 2
-          Lengkuas 2cm
-          Kunyit 1cm
-          Bawang merah 6 siung
-          Bawang putih 4 siung
-          Kemiri 3 butir
-          Sereh 4 biji geprek
-          Cabai rawit merah 20 biji atau sesuai selera
-          Cabai kriting merah 10 biji atau sesuai selere
-          Garam secukupnya
-          Gula pasir 1 sendok teh
-          Kaldu jamur 1 setengah sendok teh
-          Minyak goreng 2 sendok makan

Cara Membuat:
1.       Cuci bersih ceker masukkan dalam panci, geprek jahe 2cm dan sereh 2 biji tadi. Masukkan air hingga ceker terendam,  lalu daun salam 3 lembar, garam, jahe dan sereh yang telah digeprek. Saran aku garam tak perlu terlalu banyak.
2.       Setelah ceker empuk angkat dan tiriskan.
3.       Haluskan bumbu: sisa jahe dan laos, kunyit, bawang putih, bawang merah, cabai, dan kemiri. Bisa diulek atau diblender.
4.       Siapkan penggorengan dengan 2 sendok makan minyak panas. Tumis daun salam 3 lembar, sereh dan bumbu yang telah dihaluskan hingga harum kemudian tambahkan garam secukupnya.
5.       Masukkan daun kemangi dan ceker, lalu tumis sebentar bersama bumbu, masukkan air bekas rebusan ceker tadi kira-kira 150 ml atau segelas kecil. Aduk sesekali hingga mendidih.
6.       Setelah mendidih tambahkan gula dan kaldu jamur lalu koreksi rasa. Jika tidak ada kaldu jamur bisa diganti dengan penyedap rasa. Setelah rasa pas tunggu hingga air menyusut dan kental lalu angkat.

Resep bisa untuk 1- 2 orang (tanpa nasi), 3 - 4 orang (dengan nasi)

Saran penyajian:
Ceker Bledek ini sangat nikmat dimakan dengan nasi panas, dan beberapa tempe goreng. Kalau aku makannya sama tempe gembus goreng juga. Hehe



Terima kasih sudah mampir. Sampai jumpa di resep selanjutnya.

Salam sayang,
Ning!

Saturday, 17 March 2018

Pengalaman Kuret (Kuretase)

20:36 46 Comments

Duka itu menghampiriku di waktu yang tak terduga. Sama sekali tidak ada rasa sakit, hal aneh ataupun perdarahan. Malam itu aku hanya berniat cek rutin, selain karena rindu aku juga ingin memastikan jika anakku baik-baik saja. Seharusnya usianya sudah memasuki minggu ke-12 (3 bulan).

Dari awal dokter sudah terlihat aneh. Lama sekali beliau mengamati janinku yang hanya diam. Aku bertanya tapi dokter tidak membiarkan interupsi memecah konsentrasinya. Tumben sekali. Biasanya setelah janinku terlihat di layar, dokter akan segera menjelaskan keadaannya.

Benar saja. Berita yang membuat jantungku berdenyut menyakitkan terlontar dari beliau beserta penjelasan jika janinku sudah tidak ada detak jantungnya. Tak bisa dipertahankan lagi. It's like... are you kidding me? This is a joke right????????? Please tell me this is NOT the truth!

Masih belum percaya, besoknya pagi-pagi sekali aku ke RSIA Buah Hati, Ciputat untuk USG Transvaginal yang katanya hasil lebih akurat dari USG Standar. Dan, hasilnya sama. Baiklah, aku tak ingin menceritakan dukaku. Sempat depresi beberapa hari, tapi karena Tuhan. Aku kembali bangkit.


Singkat cerita, aku melakukan kuret di RSUD Wonogiri. Dengan alasan aku ingin menguburkan anakku di sebelah makam ibuku. Sebelum besok paginya kuret, pukul 10 malam aku minum obat agar terjadi pembukaan pada jalan lahir. Lalu puasa dari pukul 2 malam. Kemudian pukul 5 pagi aku harus kembali minum obat yang sama, itu pun dengan air yang sangat sedikit, tidak boleh terlalu banyak. Dan paginya pukul 9, aku memasuki ruang operasi. 

Aku menggigil, ruangan itu sangat dingin dan membuatku sangat tidak nyaman. Dokter anestesi sudah menunggu, mengajak mengobrol beberapa kalimat sambil menyuntikkan cairan lewat selang infus. Hanya butuh waktu beberapa detik, atau entahlah, seingatku hanya membutuhkan waktu sangat singkat cairan yang disuntikkan dokter tadi merenggut kesadaranku.

Ternyata begini rasanya dibius total, saat kesadaran mulai kembali aku tak bisa melihat dengan jelas, semua benda miring, memanjang dan bertumpuk-tumpuk. Ketika itu aku hanya bisa menggerakan tangan dan ujung kakiku. Ketika sadar aku sudah kembali ke kamar rawat dengan suami di sampingku, itu pun wajahnya berbayang tiga.

Tanpa rasa sakit sama sekali, proses kuret berjalan sekitar 15 - 30 menit. Hanya beberapa kali aku merasakan nyeri dan sakit pinggang, tapi tidak begitu berarti. Juga perdarahan selama 3 hari. Setelah itu flek cokelat hingga 1 minggu berlalu. Mengingat akan segera kembali ke Jakarta, aku hanya melakukan kontrol ke dokter satu kali. Dan setelah obat anti nyeri, menghentian perdarahan & antibiotik habis, aku kembali berdarah dan merasakan nyeri lagi.

Sempat panik, karena kebetulan di hari habisnya obat, aku melakukan aktivitas yang agak berat. Bersih-bersih rumah, masak, dan nyuci banyak baju, yah, pekerjaan buibu rumah tangga, hehe. Dokter juga sempat bilang kalau sudah flek cokelat berarti perdarahan akan segera berhenti. Ingat itu jadi tambah panik.

Akhirnya besoknya memutuskan ke dokter untuk USG. Memastikan jika tak ada perdarahan, infeksi, atau hal yang tidak diinginkan lainnya. Dan alhamdulillah hasilnya bagus. Perdarahan dan flek itu terjadi sekitar 2 mingguan, jadi kalau belum melebihi masa itu tak perlu khawatir. Lega!

Sebagai tambahan, mungkin Ibu-ibu di luar sana yang janinnya meninggal di dalam atau dalam bahasa medisnya Missed Abortion. Tidak ingin jika janinnya dikeluarkan melalui kuret, karena kemungkinan besar janin tidak akan utuh lagi. Dan aku sebagai seorang ibu, apapun yang terjadi berusaha agar janinku keluar sendiri. Sebagai seorang ibu, aku tak ingin menyakitinya lagi. Jadi aku seharian berjalan keliling rumah sakit, berlari, sampai joget-joget nggak jelas. Mengabaikan tatapan orang-orang yang mungkin menganggapku aneh. Ini adalah usaha terakhirku sebagai seorang ibu.

Tak henti-hentinya berdoa dan kubujuk anakku agar ia mau bekerja sama dan keluar dengan sendirinya. Sebagai seorang ibu, aku ingin anakku keluar secara utuh. Dan alhamdulillah berhasil, doaku terkabul. Awalnya terjadi perdarahan sejak sore, semakin berjalannya waktu perdarahan semakin banyak. Dan tepat pukul 22.30, janinku keluar, panjang 2cm, dengan kaki, tangan dan kepala yang sangat mungil dan putih bercahaya.

Jika ada Ibu yang membaca ini dan di diagnosis sama, aku sarankan untuk mencari opini dokter lain dulu sebelum memutuskan kuret. Karena bisa saja diagnosis dokter pertama salah atau alat USG yang digunakan mengalami kerusakan. 

Bukan ingin mendapat simpati apalagi rasa kasihan. Aku hanya ingin berbagi untuk ibu-ibu yang akan melakukan kuret. Tak perlu takut akan rasa sakit. Karena memang tidak sakit. Kehilangan darah daging memang berat, tapi Tuhan tau yang terbaik. Dan yakinlah, Tuhan akan memberikan titipanNya yang berharga pada waktu yang tepat. Saat kita mampu merawatnya dan saat kita lebih siap. 

Terima kasih Tuhan, walau sebentar, aku sangat bahagia. Dan aku sangat mecintainya walau dia belum terlahir ke dunia.






Friday, 15 December 2017

Ibu... Job Desk Baru

09:44 37 Comments


Pagi itu, aku harus bangun lebih awal dari biasanya. Kebiasaan setelah sholat subuh tidur lagi, bukan lagi rutinitas. Setelahnya aku harus membuat bekal ke kantor dan terburu-buru mengejar KRL. Berdesak-desakkan, terdorong ke kanan-kiri, bahkan kepalaku tersikut dua kali. Hingga menyebabkan kepala pusing setelah sampai kantor.

Pernah suatu ketika karena terburu-buru ingin naik dan dapat tempat duduk, tangaku sampai terjepit pintu KRL, hingga membiru dan berdarah-darah. Mau disumbat pakai tisu nggak bawa tisu. Tanya mbak-mbak sebelah nggak punya, dan pada akhirnya aku balut pakai kain masker. Tak ada rotan, akar pun jadi.

Tapi bukan perihal KRL dan berbagai drama di dalamnya yang ingin aku ceritakan. Tapi tentang profesi baru yang kini aku sandang. Ibu Rumah Tangga, job desknya mengurus suami, rumah, dan mendidik anak (jika sudah ada).

Jika biasanya aku mencuci baju paling sering seminggu dua kali atau paling jarang seminggu sekali. Sekarang aku harus mencuci setiap hari. Jika biasanya kamarku berantakan. Sekarang aku dituntut untuk rapi, karena memang dia sangat perfectionist jika menyangkut hal ini. Dan jika biasanya aku hanya masak nasi atau paling banter rebus indomie pakai rice cooker. Kini, jika tak ingin boros aku harus belajar masak. 

Dan masih banyak kata 'jika biasanya...' berderet di belakangnya. Hingga dalam benak terus terngiang, alangkah hebat peran Ibu. Ternyata superhero tak hanya ada di TV. Malah sangat nyata dan begitu dekat. Bayangkan jika seorang Ibu bekerja, juga mengurus rumah, lalu mengurus suami dan anak, bisa dipastikan kantung mata menghitam dan badan bertambah kurus atau gemuk. Tergantung tingkat stres yang dialami. Jika ada Ibu-ibu yang tetap cantik dan tidak mengalami gejala di atas. Bisa dipastikan bahwa Ibu itu banyak duit dan asisten rumah tangganya berderet. Hingga tak perlu risau akan hal remeh di atas. Ya, bisa jadi begitu. Kalau tidak, Ibu itu memang superhero bermental baja.

Dulu, ketika menginginkan sesuatu aku akan dengan segera memenuhinya. Kini, aku akan berpikir ratusan bahkan ribuan kali lagi sebelum mewujudkan keinginan yang kini terasa tak begitu penting. Dia... Yang lebih dulu. Baru aku. 

Begitulah, rutinitas dan profesi baru yang melelahkan. Tapi melegakan, juga membahagiakan. Maafkan aku yang curhat. Hehe

Apakah kalian punya seseorang yang kalian dahulukan sebelum diri sendiri? Jika iya, selamat....  Kalian sedang jatuh cinta. Bukan cinta kelas bertopeng, tapi cinta yang tulus. Mungkin begitu...  Kira-kira. 

Terima kasih buat yang sudi meluangkan waktunya membaca ocehan tak berbobot ini. Lalu ada yang membatin, 'untung sedikit'. Memang, orang Indonesia selalu beruntung. Dan semoga senantiasa diberi keuntungan...  Apalagi jika dalam kesempitan. Hmmm...  Awkward! 


Salam sayang,
Ning! 


NB: Bahkan untuk menulis ini pun, aku sambil menunggu rendaman cucian yang menunggu dikucek. Alhamdulillah. 

Friday, 13 October 2017

Mengenal Profesi Profiler Dari Criminal Minds

20:39 35 Comments
Sumber: klik di sini

Di mata banyak orang khususnya kaum adam, mereka menilai jika Drakor (Drama Korea) adalah tontonan cengeng dan hanya cocok untuk kaum hawa, jika ada cowok yang suka Drakor, berarti mereka nggak gentle!

SALAH! Nggak semua drama korea itu mellow dan melulu tentang cinta-cintaan. Ada banyak sekali profesi yang diangkat, seperti perjuangan seorang koki, wartawan, penulis, detektif, jaksa, dan salah satunya yang akan aku bahas adalah Profiler. Salah satu profesi di kepolisian yang memanfaatkan ilmu psikologi forensik.


Salah satu aplikasi psikologi forensik adalah criminal profiling, dan yang melakukan criminal profiling disebut Profiler. Criminal profiling adalah suatu usaha ilmiah untuk menyediakan informasi khusus tentang tipe-tipe pelaku kejahatan tertentu, dan digunakan sebagai sketsa biografis pola perilaku dan kecenderungan munculnya perilaku tersebut. Informasi inilah yang akan menolong kepolisian untuk menangkap pelaku kejahatan. [sumber: klik di sini]

Berikut adalah contoh kasus untuk criminal profiling yang aku ambil dari episode ke-7 dan ke-8 dalam drama korea Criminal Minds.

PENEMBAKAN BERANTAI TERHADAP PENGEMUDI DI JALAN YANG TIDAK TERJANGKAU CCTV

Seorang wanita berambut pendek ditembak saat mengemudikan mobilnya pada tanggal 29, pukul 3 pagi di jalur akses jalan lingkar dekat Yangchon-dong dan tanpa saksi mata ataupun rekaman CCTV. Dari hasil otopsi korban tewas seketika setelah sebutir peluru bersarang di kepalanya. Kasus ini terjadi seminggu setelah kasus pertama yang serupa, untungnya korban pertama selamat, tapi masih belum sadarkan diri. Lalu disusul penembakan serupa beberapa hari kemudian.

Dalam kasus ini data yang dimiliki kepolisian adalah keterangan saksi, hasil otopsi gambar dan laporan, barang bukti bubuk mesiu, dan laporan analisis TKP.

Bukti Fisik:
  1. Kejahatan ini menggunakan senjata api, karenanya kepolisian akan menyelidiki orang-orang yang memiliki akses senjata, seperti veteran dan orang militer. Tapi ternyata tidak berhasil. Jadi Profiler di sini berpendapat jika pelaku membuat atau merakit sendiri senjata apinya. Apalagi saat ini tidak ada regulasi tentang pistol pribadi ilegal, sehingga membuat pelakunya makin sulit dilacak. Dugaan ini dikuatkan dengan semua lubang pelurunya berbeda, artinya tekanan pada peluru tidak konsisten, jadi jelas, senjata yang digunakan adalah rakitan sendiri pelaku.


Bukti Psikologi:
  1. Korban sama-sama berumur 40an tahun, dengan tampilan fisik memiliki kemiripan. Dapat disimpulkan jika korban melambangkan sesuatu bagi pelaku;
  2. Sebagian besar bubuk mesiu ditemukan di pipi kiri kedua korban. Mereka ditembak dengan pistol laras panjang melalui jendela kursi penumpang. Luka tembak pada korban kedua berdiameter lebih besar. Diasumsikan jika pelaku memotong mulut pistolnya pada aksinya yang kedua. Pelaku belajar dari pengalaman sebelumnya, apa yang akan dilakukannya jika ingin menembak dengan mudah. Ini membuktikan jika pelaku mempelajari bagaimana cara membunuh dengan mudah;
  3. Dari luar kelihatannya pelaku tidak meiliki motif, tapi sebenarnya ada. Profiler berasumsi jika pelaku melakukan pembunuhan pertama karena terpicu oleh kemarahan. Tapi pembunuhan yang kedua pelaku memiliki motif yang jelas. Jadi Profiler perlu mencari tahu apa yang telah terjadi pada pelaku. Memakai senjata mematikan seperti pistol untuk menekan pelaku yang penakut. Dapat diasumsikan jika pekerjaan pelaku menguras banyak emosi, seperti sales yang menghadapi banyak orang;
  4. Melihat dari waktu yang dipilihnya di kasus kedua yang tidak banyak orang, pasti pelaku sudah terbiasa memendam kemarahannya dan tidak mengungkapkan perasaannya dalam waktu lama. Terlalu sibuk dengan pekerjaan dan telah terbiasa mempelajari perasaan orang lain. Pelaku juga perfeksionis yang suka bekerja seorang diri. Memiliki sosok yang rendah diri yang selalu berusaha menghindar dari kritik orang lain. Selain itu pelaku juga berkepribadian lemah dan tidak akan pernah mengungkapkan kemarahannya. Pada suatu titik sulit bagi pelaku untuk menahan kemarahan itu. Dari analisis ini kemungkinan pelaku dapat dikategorikan psikopatologi (studi tentang penyakit mental, tekanan mental, dan abnormal/perilaku maladaptif);
  5. Penembakan pertama kemungkinan tidak disengaja karena pelaku meninggalkan seorang saksi. Dan jika memang tidak sengaja, bisa jadi mobil yang dipakai pertama kali adalah mobilnya yang sebenarnya;
  6. Ada saksi mata dari seorang pekerja konstruksi jalan dekat TKP, melihat seorang pria berkacamata hitam dalam kegelapan yang terus mondar-mandir dengan mobilnya dengan berpakaian nyentrik. Dan ketika ada seseorang yang mendahului mobilnya, pelaku mengulurkan tangannya pada kursi penumpang, seperti sedang melindungi seseorang, padahal kursi penumpang itu kosong. Kemungkinan jika uluran tangan itu adalah gerak reflek yang biasa pelaku lakukan untuk melindungi keluarganya. Ini membuktikan jika pelaku memiliki istri dan anak. Berarti selama ini pelaku mencari korban untuk menggantikan istrinya tapi tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan dan mulai bersandiwara;
Dari analisis tersebut bisa disimpulkan profil pelaku:
  • Pakaian dan maskulin yang berlebihan, korban yang dipilihnya berpenampilan mirip. Selain itu penembakan pertamanya adalah seorang wanita. Semua ini menyatakan pelaku mengalami krisis maskulinitas;
  • Korban pertama tidak disengaja, tapi pasti ada trauma serius yang menyebabkannya. Dapat disimpulkan jika pelaku pengidap skizofrenia (Gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dan pikirannya sendiri; [sumber: klik di sini
  • Berusia 40 - 50 tahun dari penampilannya;
  • Menilai dari kejahatannya pelaku penakut dan kemungkinan diremehkan sebagai kepala keluarga;
  • Memiliki 3 mobil, sedan hitam, sedan biru, dan SUV biru;
  • Menimbang dari pernyataan saksi pertama kemungkinan besar pelaku adalah pekerja kelas menengah;
  • Melihat pola kejahatannya, pelaku tidak asing dengan daerah TKP;
  • Ada kemungkinan besar pelaku tidak dapat menerima kehidupan nyata. Karena tidak terkendali, besar kemungkinan orang - orang di sekitarnya dalam bahaya.
Dari analisis di atas kita bisa melihat siapa yang memungkinkan sebagai pelaku, juga sebagai acuan bagian investigasi dalam mencari latar belakang pelaku. Siapa saja yang memiliki mobil tersebut di daerah Yangchon-dong, dan yang pernah melakukan transaksi pembelian peluru ilegal, 

Jadi kira-kira begitulah tugas seorang Profiler, memetakan tersangka dan terkadang diharuskan berpikir seperti pelaku kejahatan. Drama korea ini nggak ada cinta-cintaannya sama sekali. Tapi menegangkan dan seru, penonton jadi sedikit banyak mengetahui tentang psikologi forensik dan profesi yang tidak biasa ini. 

Psikologi forensik sendiri di Indonesia masih belum sering digunakan dibandingkan dengan negara luar, dikarenakan keterpercayaan pemerintah dan psikolog forensik sendiri di Indonesia masih sangaaattt jaraaanggg. Akan tetapi, berdasarkan pemberitaan televisi kita bisa melihat psikologi forensik semakin berpengaruh. Penerapan psikologi di mata hukum dinilai penting dan membantu penyelsaian kasus kejahatan dikarenakan banyaknya kasus kriminal yang disertai masalah mental. Contohnya saja beberapa media menanyakan pendapat psikolog mengenai kasus kriminal seperti kasus mutilasi yang dilakukan Ryan (tahun 2008) dan kasus Ade Sara yang dibunuh pacar dan temannya (2014). [sumber: klik di sini]

Baiklah, terima kasih telah membaca hingga selesai. Sampai jumpa di tulisan gaje berikutnya.

Salam sayang,
Ning!


Saturday, 2 September 2017

'The Shape of Voice' Entered My Heart

20:38 0 Comments
The Shape of Voice

Judul: Koe No Katachi / The Shape of Voice / A Silent Voice
Sutradara: Naoko Yamada
Penulis: Yoshitoki Oima (manga), Reiko Yoshida (screenplay), & Kiyoshi Shigematsu
Pengisi Suara: Miyu Irino (Shoya Ishida), Saori Hayami (Shoko Nishimiya), Aoi Yuki (Yuzuru Nishimiya),
Durasi: 2 jam 10 menit 
Tahun Rilis: 2016 (Jepang), 2017 (Indonesia)

SINOPSIS:

Shoya Ishida, membully teman perempuan SDnya yang tuna rungu. Anak perempuan itu bernama Shoko Nishimiya. Awalnya Shoya geram pada Nishimiya karena selalu merepotkan teman-temannya. Dan lambat laun menjadi kebencian hingga berujung bullying. Hingga Nishimiya akan pindah ke sekolah lain karena Ibunya mengetahui tentang bullying yang dialami putrinya.

Tuesday, 29 August 2017

Wali Nikah Ketika Bapak Tak Ada

16:59 7 Comments



"Apabila seorang hamba telah menikah, berarti dia telah menyempurnakan separo agamanya, maka hendaklah dia bertaqwa kepada Allah pada separo sisanya"
Hadits Riwayat Baihaqi


Ketika usia beranjak senja, dan umur pacaran sudah terlampau tua. Juga ketika sudah bosan dengan kesendirian, ingin sekali memiliki pendamping untuk menghapus sepi. Bersama memikul lara, dan tertawa bersama saat suka menghampiri.

Untuk itu, aku dan dia memutuskan untuk menikah. Melangkah ke jenjang yang diridhoi oleh-Nya. Setelah 8 tahun menjalani masa pacaran. Sebenarnya kami tak ingin pacaran selama itu. Tapi keadaan memaksa kami untuk begitu. Bersama, dengan sabar menunggu waktu untuk akhirnya kata 'menikah' mendapat restu dari kedua keluarga.

Menikah bagi kami bukan perkara gampang. Apalagi dengan segala keterbatasan yang kami miliki. Dan lagi-lagi materi memang momok yang menakutkan. Hidup bermasyarakat bertolak belakang dengan kemampuan. Karena kami sama-sama berusaha sendiri. Tapi ingin memantaskan diri. Maafkan kami yang begitu ingin -paling tidak- memiliki kenangan sederhana yang ingin kami simpan untuk suatu saat dikenang bersama.

Selain itu, aku tidak memiliki figur seorang Bapak. Terakhir kali aku bertemu Bapak adalah saat SMP, atau sekitar 10 atau 11 tahun yang lalu. Tak ada lagi kabar maupun kontak. Hingga Bue meninggal pun, tak ada kabar dari seorang Bapak. Tapi tak apa, aku masih bisa hidup normal dan merasa beruntung. Setidaknya hidupku tidak kekurangan apa pun.

Tapi ketika kata menikah terucap. Saat keluarga dia datang ke rumah dengan membawa hari bahagia kami. Aku kaget sekaligus senang, tapi juga resah. Bagaimana nanti untuk wali nikah kami? Jika Bapak tak ada? Saudara lelaki pun juga tak ada. Kebetulan semua anak nenekku perempuan semua. Dan anak Bue juga semua perempuan.

Agar lebih jelas di bawah ini adalah urutan wali nikah dari pihak perempuan:

sumber: http://pinogaluman-kua.blogspot.co.id/2012/11/wali-nikah.html

Dari urutan tersebut tidak ada laki-laki yang bisa menjadi wali nikah kami. Tapi sebelumnya aku juga sudah berusaha mencari orang yang memiliki sebutan Bapak dalam kehidupanku itu. Sudah dari kecil memang aku suka mencatat hal-hal penting. Termasuk alamat rumah Bapak yang di Jakarta. 

Rumahnya masih yang dulu, keluarganya masih tinggal di situ. Tapi diantara mereka tak ada yang tahu, kini Bapak tinggal di mana. Entah karena tidak tahu, atau ditutup-tutupi. Aku berusaha khusnuzon, berpikir positif dan tak ingin berburuk sangka. Aku tahu, ketiga kata itu memiliki makna yang sama, hanya saja, aku ingin lebih meyakinkan dan menguatkan diri.

Karena alasan itulah aku mendaftar di KUA jauh-jauh hari. Untuk mengantisipasi jika ada masalah pada wali. Tapi alhamdulillah, dengan bantuan dari banyak orang yang menyayangi kami. Semua berjalan lancar. Pihak KUA memutuskan untuk menyerahkan masalah wali pada negara. Atau dengan kata lain Wali Hakim. Karena memang keberadaan Bapak tidak diketahui. Beda cerita jika Bapak meninggal. Bisa memakai adik atau kakak laki-laki Bapak, yang aku pun tak tahu, apakah Bapak memiliki saudara laki-laki atau tidak.

Lega. Karena semua berjalan lancar dan juga karena aku tak perlu bersinggungan dengan sosok asing bernama Bapak.


Terima kasih Pak Lurah, Mas Ipar, dan segala pihak yang telah membantu melancarkan pendaftaran pernikahan kami yang akan berlangsung 2 bulan lagi.


Salam sayang,
Ning!
dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا تزوج العبد فقد استكمل نصف الدين فليتق الله في النصف الباقي
Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya.


Read more https://konsultasisyariah.com/26085-makna-hadis-menikah-menyempurnakan-setengah-agama.html

instagram